SELANDIA BARU, Opsi.id — Seekor kucing liar berwarna abu-abu dengan corak khas menjadi legenda kelam bagi para konservasionis di Semenanjung Purerua, Selandia Baru.
Kucing yang dijuluki “Nine Lives” itu diburu selama tiga tahun setelah diduga memangsa puluhan satwa liar, termasuk burung pāteke atau brown teal yang merupakan salah satu spesies bebek paling langka di Selandia Baru.
Kisahnya bermula sekitar tiga tahun lalu ketika proyek konservasi Pest Free Purerua melepaskan 20 ekor pāteke hasil penangkaran ke alam liar.
Baru satu minggu berlalu, seekor burung ditemukan tewas mengenaskan.
Kematian kemudian terus terjadi. Peneliti akhirnya menemukan dugaan pelakunya: seekor kucing domestik liar dengan bulu abu-abu dan tanda khas di tubuhnya.
Namun, menangkap kucing tersebut ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.
Muncul Sesuka Hati, Lalu Menghilang Berbulan-bulan
Para konservasionis memasang perangkap dan kamera malam untuk melacak pergerakannya. Namun, Nine Lives memiliki pola yang sangat sulit ditebak.
Kucing itu bisa muncul pada sore hari, tengah malam, dini hari, bahkan siang hari.
Setelah terlihat di satu lokasi, ia bisa menghilang selama dua atau tiga bulan.
“Kucing ini sangat tidak menentu,” kata Andy Mentor, manajer proyek Pest Free Purerua, dikutip dari odditycentral, Senin (24/8/2026).
Pada 2024, konservasionis kembali melepaskan 20 ekor pāteke ke alam liar. Namun, dalam waktu relatif singkat, 15 ekor di antaranya dibunuh.
Selama tiga tahun berkeliaran di kawasan tersebut, Nine Lives diyakini telah memangsa puluhan brown teal—jumlah yang disebut setara sekitar satu persen dari keseluruhan populasi burung tersebut.
Tidak hanya pāteke. Anak burung kiwi, tokek asli Selandia Baru dan satwa liar lainnya juga diyakini menjadi korban.
Tiga Malam Berturut-turut Jadi Kesempatan Emas
Para konservasionis akhirnya mendapatkan kesempatan yang selama ini mereka tunggu.
Mereka menyadari kucing misterius tersebut mendatangi lokasi yang sama selama tiga malam berturut-turut.
Kesempatan itu tidak disia-siakan.
Tim memasang kandang dan perangkap di lokasi tersebut. Berbagai umpan digunakan, mulai dari ikan salmon, ayam goreng hingga daging kelinci.
Strategi itu akhirnya berhasil.
Setelah tiga tahun menjadi buronan, Nine Lives akhirnya tertangkap.


