Oleh: Willem Wandik S.Sos
Jakarta – Papua Pegunungan (6/9/2026) – Di sela-sela agenda Penugasan Mendagri di Lemhannas RI, Jakarta, kami selaku Bupati Tolikara—yang juga mewakili Pusat Pemerintahan Daerah di Karubaga, jantung Kabupaten Tolikara, Tanah Injil di Papua Pegunungan—menyampaikan salam hangat dan penghormatan setinggi-tingginya kepada Ketua Umum Partai Demokrat, Bapak Agus Harimurti Yudhoyono.
Selamat atas momentum 25 tahun pengabdian Partai Demokrat untuk bangsa. Kami siap menyimak pidato politik yang akan disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia melalui siaran serentak televisi nasional..
PIDATO POLITIK SEBAGAI PERTANGGUNGJAWABAN GAGASAN
Kami menyambut baik tradisi pidato politik Ketua Umum ini sebagai forum komunikasi politik nasional yang terbuka – sebuah pidato kebangsaan kepada publik sekaligus pertanggungjawaban gagasan kepada rakyat.
Politik tidak boleh hanya hadir sebagai percakapan di antara elite. Politik harus menjelaskan apa yang sedang dihadapi bangsa, mengakui kegelisahan rakyat, menawarkan arah yang masuk akal, dan menggerakkan kerja bersama..
Politik yang sehat bukan hanya pandai berbicara. Politik wajib mendengar, menjelaskan, menenangkan, dan bekerja..
Pada saat ruang publik dipenuhi kritik, kecemasan, dan perdebatan yang keras, masyarakat membutuhkan suara pemimpin yang jernih. Menyejukkan keadaan bukan berarti menutupi persoalan.
Menyejukkan berarti menyampaikan kebenaran secara tenang, menghormati perbedaan, menolak fitnah dan kekerasan, serta menunjukkan jalan keluar yang dapat dikerjakan dan diawasi bersama..
Sebagai kader Partai Demokrat dan sekaligus kepala daerah, saya memahami adanya dua amanah yang harus dijalankan dengan tertib. Dalam forum kepartaian, saya berdiri sebagai kader yang memperjuangkan gagasan.
Dalam pemerintahan, saya wajib melayani seluruh warga tanpa membedakan suku, agama, asal-usul, ataupun pilihan politik. Kesetiaan kepada partai tidak boleh mengurangi pengabdian kepada Rakyat dan Republik; sebaliknya, perjuangan partai harus bermuara pada kebaikan seluruh rakyat..
INDONESIA DI TENGAH GUNCANGAN DUNIA
Dewasa ini, dunia pada tahun 2026 sedang bergerak di antara ketegangan geopolitik, gangguan energi dan rantai pasok, persaingan dagang, serta gelombang teknologi kecerdasan buatan.
Dana Moneter Internasional memproyeksikan pertumbuhan dunia hanya sekitar 3,0 persen pada 2026 dan pertumbuhan perdagangan dunia melambat. Artinya, guncangan dan gangguan yang terjadi jauh dari Tanah Papua dapat tiba di meja makan rakyat Tolikara melalui harga avtur, harga beras, harga obat,harga bahan bangunan, ongkos angkut transportasi, dan tekanan terhadap anggaran negara (APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota)..
Risikonya juga bukan hanya ekonomi. World Economic Forum menempatkan konfrontasi geoekonomi, misinformasi dan disinformasi, polarisasi sosial, cuaca ekstrem, konflik bersenjata, serta kerawanan siber di antara risiko paling berat dalam dua tahun ke depan.
Organisasi Meteorologi Dunia mencatat 2015-2025 sebagai sebelas tahun terpanas yang pernah tercatat. Bagi negara kita di Indonesia, ancaman itu berarti ketahanan pangan, bencana, pekerjaan, keamanan informasi, dan persatuan sosial harus ditangani sebagai satu agenda besar..
Di dalam negeri, kita memiliki alasan untuk optimistis sekaligus kewajiban untuk tetap waspada. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II-2026. Kemiskinan nasional turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, dan tingkat pengangguran terbuka tercatat 4,65 persen pada Mei 2026.
Namun, inflasi tahunan pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen; kemiskinan perdesaan masih 10,67 persen, lebih tinggi daripada perkotaan; dan gini ratio Maret 2026 berada pada 0,368.
Karena itu, keberhasilan makro harus hadir dan tercermin pula sebagai harga pangan yang terjangkau, pekerjaan yang layak, pendapatan yang membaik, sekolah yang berfungsi, puskesmas yang melayani, dan hukum yang dirasakan adil..
Demokrasi juga menghadapi ujian kepercayaan. Kritik tidak boleh dianggap sebagai permusuhan; kekuasaan harus terbuka terhadap koreksi dan dijalankan secara bertanggung jawab.
Pada saat yang sama, kebebasan harus dijaga dari kebohongan, ujaran kebencian, politik identitas yang memecah, dan tindakan kekerasan.
Di sinilah partai politik dituntut menjadi ruang pendidikan publik, penyaring aspirasi, serta penghubung yang jujur antara rakyat dan negara..
SUARA DARI TANAH PAPUA
Dari Papua Pegunungan, kami merasakan langsung bahwa ketidakpastian global dan persoalan nasional selalu memiliki ongkos yang lebih mahal di daerah terpencil. Kabupaten Tolikara terdiri atas 46 distrik dengan bentang pegunungan yang luas.
Sebagian wilayah masih bergantung pada penerbangan perintis; jalan, listrik, internet, layanan pendidikan, dan kesehatan belum merata. Di sini, satu keputusan logistik dapat menentukan apakah obat tiba tepat waktu, guru dapat bertugas, dan hasil kebun rakyat bisa mencapai pasar..
Inflasi tahunan Papua Pegunungan pada Agustus 2026 tercatat 3,77 persen, di atas angka nasional; bahkan sempat mencapai 7,84 persen pada Juni 2026.
Di Tolikara, persentase penduduk miskin pada Maret 2025 masih 28,75 persen, meskipun telah turun 2,47 poin persentase dari tahun sebelumnya. Rata-rata lama sekolah penduduk Tolikara pada 2025 baru 3,70 tahun, sedangkan nasional 9,07 tahun.
Angka-angka ini tidak kami sampaikan untuk merendahkan martabat daerah. Inilah kompas moral dan arah kerja kita..
Tanah Papua tidak meminta dikasihani. Tanah Papua meminta didengar, dihormati, dan diperlakukan adil.
Rakyat menghendaki kehadiran negara yang memahami adat dan hak ulayat, mengutamakan dialog, melindungi masyarakat sipil, memperkuat Orang Asli Papua, serta memberi afirmasi yang sebanding dengan mahalnya biaya pelayanan di wilayah pegunungan.
Efisiensi fiskal penting, tetapi daerah berbiaya tinggi tidak dapat diukur dengan satu standar yang sama dengan kota-kota yang infrastrukturnya telah lengkap..
Karena itu, Tanah Papua menaruh harapan besar kepada partai politik. Partai harus menjadi jembatan aspirasi yang tetap berdiri setelah pemilu selesai.
Jangan biarkan suara rakyat di Tanah Papua hanya ramai pada musim politik, lalu sunyi ketika kebijakan disusun.
Demokrasi harus menjadi jembatan dari suara menuju kebijakan – bukan sekadar dari suara menuju kursi kekuasaan..
KERJA YANG KAMI MULAI DI TOLIKARA
Dalam perjalanan kepemimpinan yang kini memasuki tahun kedua sejak pelantikan pada 20 Februari 2025, saya bersama Wakil Bupati Yotam Wonda dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Tolikara tidak datang untuk mengklaim bahwa semua masalah telah selesai.
Kami datang untuk memulai perubahan, membenahi fondasi, dan memastikan pemerintah bergerak lebih dekat kepada rakyat..
Pertama, membuka isolasi dan memperkuat layanan dasar. Layanan listrik 24 jam di Karubaga dan Wugi telah dioperasikan, sambil terus kami perjuangkan perluasannya.
Penerbangan perintis bersubsidi dibuka untuk membantu konektivitas rute-rute yang sulit dijangkau, termasuk Wamena, Karubaga, Wina, Ndundu, Douw, dan Wari.
Bagi Tolikara, penerbangan perintis bukan kemewahan; ia adalah jembatan kehidupan bagi pelajar, tenaga kesehatan, aparatur, pedagang, dan keluarga.
Kedua, memperkuat kesehatan dan menyelamatkan generasi. Pada Juni 2026, pemerintah daerah melepas 315 tenaga kontrak kesehatan untuk ditempatkan pada 39 puskesmas. Puskesmas Kai mulai difungsikan agar pelayanan lebih dekat.
Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan dijalankan bertahap di seluruh distrik, dipadukan dengan semangat Makan Bergizi Gratis dan pemanfaatan pangan lokal.
Tantangan berikutnya adalah memastikan tenaga bertahan di tempat tugas, obat tersedia, dan layanan benar-benar berjalan setiap hari..
Ketiga, menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan. Kami mendorong Sekolah Rakyat berpola asrama, memperkuat dukungan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa, serta menata distribusi guru dan sarana belajar.
Capaian rata-rata lama sekolah 3,70 tahun adalah peringatan keras bahwa masa depan Tolikara harus dibangun melalui keberanian berinvestasi pada anak-anak, guru, asrama, dan pendidikan tinggi..
Keempat, membangun ekonomi dari kampung menuju kota. Kami memperkuat koperasi kampung, pangan lokal, dan pasar bagi hasil kebun rakyat.
Distrik Wari dan Douw sedang disiapkan sebagai kawasan pertanian dan lumbung pangan, dengan pengembangan padi, sagu, umbi-umbian, sayur, kopi, kakao, dan komoditas lokal lainnya.
Program gizi dan belanja pemerintah harus sekaligus menciptakan permintaan bagi produksi mama-mama dan petani Tolikara..
Kelima, merawat identitas, iman, budaya, dan perdamaian. Festival Etnik Religi Tolikara 2026 kami hadirkan bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai ruang merawat sejarah, jati diri, ekonomi kreatif, dan persaudaraan.
Tokoh gereja, tokoh adat, perempuan, dan pemuda adalah mitra utama dalam menjaga Tolikara sebagai Tanah Injil – Tanah Kristus yang Memelihara Damai..
Keenam, menata birokrasi agar semakin profesional dan akuntabel. Kami mulai memperkuat sistem merit, uji kompetensi pejabat, pembenahan data aparatur, disiplin perencanaan, serta tindak lanjut pengawasan.
Pemerintahan yang berpihak kepada rakyat hanya mungkin berjalan apabila anggaran dikelola jujur, pegawai hadir melayani, dan keputusan dapat dipertanggungjawabkan..
Semua kerja ini belum sempurna. Masih ada kampung yang menunggu akses, sekolah yang membutuhkan guru, puskesmas yang memerlukan obat, petani yang kesulitan pasar, dan keluarga yang harus membayar mahal untuk transportasi.
Karena itulah kami membutuhkan sinergi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dunia usaha, gereja, masyarakat adat, kampus, serta dukungan politik yang konsisten dari Partai Demokrat..
HARAPAN KEPADA KETUA UMUM DAN SELURUH KADER
Kami berharap pidato politik Ketua Umum AHY dapat menghadirkan keteduhan sekaligus ketegasan moral: meneguhkan persatuan, menghormati ruang kritik, menjaga supremasi hukum, menolak provokasi dan kekerasan, serta mengajak semua pihak kembali kepada kepentingan rakyat.
Pesan yang menyejukkan bukanlah optimisme kosong, melainkan keberanian mengakui masalah dan menunjukkan arah penyelesaian..
Kami juga berharap Ketua Umum terus mendorong bakti setiap kader sesuai perannya. Kader yang berada di pemerintahan harus mengawal program yang bermanfaat agar tepat sasaran, sekaligus berani memperbaiki yang belum bekerja.
Kader di parlemen harus memperjuangkan anggaran dan regulasi yang adil. Kader di daerah harus turun ke kampung, mendengar sebelum berbicara, menggunakan data sebelum menyimpulkan, dan hadir bukan hanya ketika ada agenda politik..
Secara khusus, kami memohon agar isu Tanah Papua terus ditempatkan sebagai agenda kebangsaan yang dikerjakan dengan hati, data, dialog, dan keberanian kebijakan.
Perjuangkan konektivitas antardistrik, layanan pendidikan dan kesehatan, afirmasi fiskal untuk wilayah berbiaya tinggi, perlindungan hak masyarakat adat, pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua, serta pembangunan yang menjaga lingkungan dan ruang budaya..
Rakyat membutuhkan komunikasi yang positif dan dapat dipercaya. Rasa aman lahir ketika pemimpin mengetahui harga kebutuhan pokok, jarak yang ditempuh anak menuju sekolah, kesulitan tenaga kesehatan, dan suara masyarakat di lapis bawah.
Rakyat tidak menuntut pemimpin selalu memiliki jawaban seketika; rakyat menuntut pemimpinnya jujur, hadir, mau mendengar, dan sungguh-sungguh bekerja..
Kami, para kader Partai Demokrat yang berasal dari Tanah Papua, memilih untuk berjuang dan memperjuangkan masa depan – bukan berdiam diri menunggu keajaiban.
Tidak ada waktu untuk menetap dalam kekecewaan. Kekecewaan harus kita ubah menjadi inisiatif; keterbatasan harus kita jawab dengan keberanian; dan aspirasi rakyat harus kita bawa melalui jalan demokrasi, kebijakan publik, serta kerja pemerintahan yang sah dan damai..
Sejarah telah memberi kami kehormatan sekaligus tanggung jawab: menjadi kader dan kepala daerah pada masa perubahan besar.
Kehormatan itu bukan fasilitas untuk dinikmati, melainkan amanah untuk membawa suara dari lembah-lembah Tolikara ke meja kebijakan nasional. Saya bangga dapat terus mengawal demokrasi bersama Ketua Umum AHY dan keluarga besar Partai Demokrat. Namun kebanggaan itu hanya bermakna apabila dirasakan sebagai manfaat oleh rakyat..
Atas nama kader Partai Demokrat di Tanah Papua dan sebagai Bupati Tolikara, saya menyambut pidato politik Ketua Umum Partai Demokrat, Bapak Agus Harimurti Yudhoyono.
Semoga pidato ini memberi arah, menyejukkan suasana kebangsaan, menguatkan keberanian kader untuk bekerja, dan meneguhkan kembali bahwa politik harus selalu dekat dengan denyut kehidupan rakyat..
Mari kita buktikan semangat 25 Tahun Demokrat Bersama Rakyat: memajukan ekonomi yang dirasakan sampai ke kampung, menegakkan keadilan yang tidak memilih tempat, dan menjaga demokrasi yang menghormati martabat setiap warga. Dari Karubaga kami menyatakan: Tolikara siap bekerja, Papua siap maju, dan Indonesia harus semakin adil, damai, serta sejahtera.
Tidak ada kata berhenti untuk memperjuangkan nasib rakyat.. Tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk dijembatani. Tidak ada tantangan yang terlalu besar apabila kita tetap bersama rakyat..
Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati pengabdian kita semua..
Shalom..
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Salam sejahtera bagi kita semua..
Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan..
Horas.. Maturnuwun..
Wa.. Wa.. Yaki.. Yaki.. Jousuba..
BUPATI TOLIKARA
WILLEM WANDIK, S.Sos. []


