Jakarta – Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Wa Ode Herlina mendorong jajaran direksi dan komisaris Bank Jakarta untuk terus memperbaiki layanan sistem perbankan sebelum melakukan Initial Public Offering (IPO), melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2027 mendatang.
Wa Ode berpendapat, jajaran Bank Jakarta harus membenahi tata kelola, kualitas kredit, hingga menyentuh aspek manajemen risiko sebelum menjadi perusahaan terbuka atau Tbk.
”Tentu ini tata kelola, kualitas kredit, kemudian manajemen risiko, ada juga return of asset dan return of equity yang harus diperbaiki karena menjadi fondasi IPO,” kata Wa Ode saat diwawancarai di ruang kerjanya di Gedung DPRD DKI Jakarta pada Rabu, 9 September 2026.
Menurut Wa Ode, perbaikan kualitas utamanya dalam melayani masyarakat perlu diperhatikan agar di sisi bersamaan, Bank Jakarta memperoleh laba usaha yang sehat.
Ia mendorong jajaran Bank Jakarta jangan sampai kalah menyangkut aspek servis kepada klien seperti yang dilakukan oleh bank swasta ataupun himpunan bank milik negara (Himbara).
Wa Ode menginginkan, IPO yang dilakukan Bank Jakarta ke depan harus on the track, bervisi pada pembangunan Jakarta sebagai kota global. Jadi, tidak hanya mengejar tambahan modal. Harus ada perbaikan fundamental di dalamnya.
”Yang pasti kerjanya harus profesional ya, supaya betul-betul menghasilkan keuntungan banyak, nanti kan untuk pembangunan Jakarta, buat kepentingan masyarakat Jakarta. Jadi, harus betul-betul kerja profesional, persisten, terus harus bergerak cepat,” ucapnya.
”Terutama tadi perbaikan sistemnya kan, jangan kalah sama bank swasta,” tutur Wa Ode menambahkan.
Wa Ode juga memberi masukan agar jajaran Bank Jakarta mulai fokus pada ekonomi kerakyatan, dengan memberi modal usaha kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar geliat ekonomi di ibu kota semakin baik.
Sebab, ia mendengar di akar rumput masih banyak calon pengusaha UMKM terkendala pada modal dalam menggeliatkan usaha.
”Sekarang ini yang paling kesulitan itu soal modal. Penggiat-penggiat UMKM cari Rp1-2 juta saja sulit. Jadi yang sekarang kan Bank Jakarta itu Rp5 Juta ya, tapi minimal syaratnya dimudahkan. Terus kalau bisa turun. Nah salah satu yang saya apresiasi, yang sekarang dilakukan oleh cabang Kebon Melati, Jakarta Pusat, lagi mencoba pedagang penggiat UMKM supaya memakai Qris Bank Jakarta,” ucapnya.
”Mudah-mudahan ini salah satu cara supaya nanti kawan-kawan penggiat UMKM ini bisa dapat modal dari Bank Jakarta. Nanti Bank Jakarta-nya katanya mau turun, memberikan pelatihan manajemen atau pembukuan supaya mereka tertib membayar. Jadi ketika misalnya mereka (UMKM) sudah mulai naik kelas, misalnya dari pinjaman Rp5 juta, bisa (bertambah menjadi) Rp10 juta, Rp25 juta hingga Rp50 juta,” ujar Wa Ode menambahkan.
Wa Ode menegaskan, perbaikan sistem data online di aplikasi mobile banking Bank Jakarta harus dilakukan secara cepat. Menurutnya, hal tersebut sudah disampaikan di dalam Rapat Komisi B DPRD DKI bersama direksi Bank Jakarta.
”Harus ada peningkatan dan perbaikan layanan pada sistem m-banking, kayak sekarang nih kadang kita mau mengecek saldo saja masih suka loading terus, lama, tahu-tahu enggak kelihatan sama sekali gitu soal saldo,” ujar Wa Ode Herlina.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa Bank Jakarta berencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia lewat mekanisme IPO.
Menurutnya, dengan melakukan IPO, maka kinerja Bank Jakarta diharapkan bisa lebih baik. Pasalnya, menurut dia, kepercayaan publik penting bagi badan usaha tersebut.
”Secara terus-menerus kami juga berkoordinasi dengan Bank Indonesia maupun dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan saya juga sudah meminta kepada jajaran direksi dan komisaris untuk mempersiapkan diri,” kata Pramono di Lippo Mall Kemang Village, Jakarta Selatan, pada medio Januari 2026. []


