Dulu, ketika Gibran Rakabuming Raka hendak dipinang menjadi calon wakil presiden, Prabowo Subianto disebut harus merayunya berkali-kali agar bersedia. Ada tuah politik Joko Widodo yang tentu ikut diperhitungkan saat itu.
Maklum, perjalanan politik Prabowo sebelum berpasangan dengan Gibran tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Dua kali berhadapan dengan Jokowi, dua kali pula harus menerima hasil berbeda.
Kini situasinya berubah.
Gibran telah resmi menjadi Wakil Presiden. Namun ketika pencalonannya kembali dipersoalkan, termasuk melalui jalur Mahkamah Konstitusi, muncul kesan bahwa kubu Prabowo justru relatif tenang. Bahkan terkesan seperti tidak ingin terlalu jauh ikut masuk ke dalam persoalan.
Pertanyaannya sederhana: bukankah Prabowo dan Gibran maju sebagai satu pasangan?
Jika sejak awal pencalonan memang ditemukan persoalan mendasar terkait syarat calon wakil presiden, logikanya bukan sekadar mengganti wakil presiden di tengah jalan. Sebab konstitusi mengenal pasangan calon presiden dan wakil presiden yang dipilih secara bersamaan.
Foto yang dicoblos pemilih juga foto berpasangan.
Karena itu, persoalan mengenai keabsahan pencalonan semestinya dibedakan dengan persoalan yang muncul setelah pasangan terpilih dan menjalankan pemerintahan. Jika seorang wakil presiden meninggal dunia, mengundurkan diri, tidak dapat menjalankan kewajiban secara permanen, atau diberhentikan berdasarkan mekanisme konstitusional, tentu terdapat mekanisme tersendiri untuk pengisian jabatan tersebut.
Tetapi jika yang dipersoalkan adalah syarat pencalonan sejak awal, konteksnya tentu berbeda.
Baca juga: Denny Indrayana Ajukan PHPU ke MK, Syarat Pendidikan Gibran Dipersoalkan
Di sinilah seharusnya tim pemenangan Prabowo-Gibran menunjukkan soliditas politik. Mereka bukan sekadar kelompok yang berkumpul ketika pemilu berlangsung, lalu tercerai ketika kekuasaan sudah diraih.
Mereka pernah berjuang bersama.
Mereka pernah mengumpulkan suara bersama.
Dan mereka pula yang menikmati hasil perjuangan tersebut bersama.
Namun politik memang sering begitu.
Ketika kue belum tersaji, semua sibuk mengumpulkan bahan, menyiapkan tungku, mengaduk adonan, dan memastikan kue matang sempurna.
Begitu kue tersaji di meja, persoalannya berubah: siapa mendapat potongan paling besar?
Kesetiaan dan soliditas perjuangan kadang menguap ketika perebutan ruang kekuasaan dimulai. Bahkan dalam banyak episode politik, pengkhianatan justru lahir setelah kemenangan diraih—ketika masing-masing mulai menghitung bagian yang dianggap pantas diterima.
Karena itu, wajar jika muncul spekulasi politik ketika isu mengenai Gibran terus bergulir.
Apakah sekadar persoalan hukum?
Ataukah ada kepentingan politik yang lebih panjang?
Apalagi di tengah isu tersebut, berbagai manuver politik dan tebar pesona dari sejumlah figur yang berpotensi masuk dalam bursa suksesi mulai terlihat dalam berbagai kemasan.
Opini mengenai kemungkinan pergantian terus diproduksi. Sementara perlawanan politik dari mereka yang dahulu berada dalam satu barisan dengan Prabowo-Gibran justru tidak terlihat maksimal.
Tentu semua itu belum tentu membuktikan adanya sebuah skenario.
Politik tidak bisa hanya dibaca dari apa yang terlihat di permukaan. Namun politik juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan, jaringan, posisi, dan kalkulasi kekuasaan.
Baca juga: Sidang MK Memanas, Relawan Gibran Soroti Legal Standing dan Tenggat Gugatan PHPU
Kalau ingin membaca siapa yang berkepentingan dari sebuah permainan, salah satu caranya adalah melihat siapa yang bergerak, siapa yang mendapatkan keuntungan dari narasi yang berkembang, dan siapa yang paling mungkin memperoleh ruang apabila konfigurasi politik berubah.
Dari sana, arah permainan biasanya mulai terlihat.
Latar belakang para pemainnya pun bisa menjadi petunjuk.
Siapa yang bergerak?
Siapa yang diam?
Siapa yang menikmati situasi?
Dan siapa yang mulai menyiapkan diri jika kursi itu benar-benar kosong?
Kalau saya sih, sebenarnya sudah bisa menebak.
Tinggal lihat saja dari kutub mana para pemainnya bergerak.
Dari sana, mungkin kita bisa tahu siapa yang memegang remote dan dari mana guratan pertama skenario itu dimulai.
[Dikutip dari akun Facebook Gede Pasek Suardika]


