Seorang pakar feng shui ikut memperingatkan rakyat Indonesia terkait kemungkinan besar terjadinya penurunan energi menjelang akhir Tahun 2026, mengakibatkan hilangnya banyak lapangan pekerjaan di banyak daerah di Indonesia dan semakin sulitnya memperoleh penghasilan yang layak menjelang pergantian bulan November–Desember 2026.
Pesan feng shui ini patut dijadikan peringatan untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga kita, agar meningkatkan produktivitas, dan mengantisipasi masalah ketidakpastian ekonomi yang akan segera kita hadapi menjelang penutupan Tahun 2026..
Yang menarik, Pemantauan di sepanjang Januari hingga 19 Oktober 2026, telah muncul sejumlah perkembangan ekonomi di dalam negeri Indonesia, yang membuat pesan kewaspadaan pakar feng shui tersebut relevan untuk diperhatikan.
Data resmi yang bersumber dari Pemerintah, melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah melaporkan 63.789 pekerja terkena PHK sepanjang Januari – September 2026 berdasarkan laporan dalam sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Jumlah ini menunjukkan risiko kehilangan penghasilan yang nyata, bukan sekadar dugaan (tetapi bukti empiris lapangan).
Dimana kenaikan angka PHK tersebut justru bersifat sementara (artinya akan terus meningkat hingga akhir tahun ini dan tidak ada gejala gelombang PHK akan berhenti), karena laporan PHK yang tercatat hanya dapat masuk hingga enam bulan setelah kejadian dan data tersebut belum mencakup keseluruhan pekerja informal yang telah menerima keputusan PHK.
BPS juga mencatat inflasi nasional September 2026 sebesar 3,28% dibandingkan September 2025.
Inflasi sejak awal Januari sampai September 2026 mencapai 2,17%,
Artinya, ketika penghasilan keluarga tidak meningkat sebanding (tidak setara) dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, maka kemampuan masyarakat indonesia untuk membeli barang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari berpotensi mengalami penurunan yang ekstrim.
Bank Indonesia juga telah mencatat nilai kurs referensi JISDOR pada 19 Oktober 2026 sebesar Rp18.050 per dolar AS.
Arti pergerakan nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap Dolar AS telah berpengaruh besar terhadap biaya barang impor dan hasil akhirnya akan diteruskan menjadi biaya produksi maupun distribusi dalam negeri yang semakin melambung tinggi.
Bagi masyarakat di Tanah Papua, kondisi ini memerlukan perhatian yang lebih serius.
Sebab, pada September 2026 saja, catatan inflasi tahunan di Tanah Papua Pegunungan mencapai 5,42 persen, lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional.
Data pada bulan Maret 2026 juga menunjukkan tingkat kemiskinan di Papua Pegunungan telah mencapai 26,34 persen, sedangkan di Papua Tengah mencapai 30,41 persen.
Angka-angka ini memperlihatkan _bahwa tantangan ekonomi masyarakat di sebagian besar wilayah di Tanah Papua bukan hanya masalah ketersediaan uang di masyarakat, melainkan juga menyangkut kemampuan masyarakat untuk memperoleh penghasilan, mempertahankan daya beli, serta mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang benar benar dapat terjangkau.
Di Papua Pegunungan, banyak keluarga OAP menggantungkan kehidupannya pada hasil kebun dan kegiatan ekonomi informal.
Ketika harga barang meningkat, biaya transportasi mahal, dan hasil pertanian sulit dipasarkan, karena rendahnya penghasilan masyarakat, dampaknya akan memberikan tekanan ekonomi sekalipun masyarakat masih tetap bekerja setiap hari (namun penghasilannya sudah tidak bisa mencukupi tingkat harga yang terlampau tinggi).
Memasuki November dan Desember 2026, setiap keluarga di Tanah Papua perlu lebih bijaksana mengatur pengeluaran.
Kurangi kebutuhan konsumtif yang tidak mendesak, hindari utang yang membebani, dan siapkan cadangan kebutuhan pokok sesuai kemampuan.
Bagi masyarakat petani di Tanah Papua, mari perkuat kebun-kebun pangan lokal, mulai dari ubi jalar, keladi, sayuran, hingga komoditas lain yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Jangan sampai tanah yang subur dan sumber daya alam yang Tuhan anugerahkan kepada rakyat OAP tidak mampu menjamin kebutuhan pangan keluarga sendiri.
Mari Persiapkan diri sejak sekarang.
Sebab ketahanan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan bekerja, menghasilkan pangan, mengelola sumber daya, menjaga persatuan, dan saling menolong ketika menghadapi kesulitan kolektif.
Bagi rakyat di Tanah Papua, pengharapan harus berjalan bersama kerja nyata. Iman harus disertai usaha, dan kewaspadaan harus disertai persiapan yang cerdas sejak hari ini.
Salam representasi Nusantara: Yaki Yaki, Wa Wa, Waniambe, Jo Suba, Tabea Tabea, Matur Nuwun, Horas, Mbajua jua, Ya’ahowu.
Willem Wandik, S.Sos.

