Jakarta – Kuartet instrumental asal Kabupaten Bandung, Basajan, resmi meluncurkan album perdana mereka bertajuk “Béwara”. Album ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan musik Basajan. Basajan menghadirkan eksplorasi sonik yang memadukan budaya Sunda dengan pendekatan musik modern penuh warna.
Album “Béwara” berisi 10 trek yang dirancang sebagai perjalanan konseptual berdasarkan filosofi kosmologi Sunda, yakni Tri Tangtu. Konsep ini membagi album ke dalam tiga dimensi kehidupan yang saling terhubung: spiritual, dunia manusia, dan refleksi akan akhir.
Pada bagian Buana Nyungcung, Basajan menghadirkan nuansa sakral yang merepresentasikan hubungan manusia dengan Sang Hyang Kersa.
Trek seperti “Wilujeng, “Ageman”, Nadoman”, dan “Pamali” dibangun dengan pendekatan repetitif dan atmosferik, menciptakan ruang kontemplasi yang transenden. Beranjak ke Buana Panca Tengah, fokus bergeser pada dinamika kehidupan sehari-hari.
Lagu “Uleman”, “Talaah”, dan “Sonten” merefleksikan ritme hidup manusia, dari interaksi sosial hingga momen personal sederhana. Sementara itu, Buana Larang menjadi ruang eksplorasi yang lebih gelap dan reflektif.
Trek seperti “Pileuleuyan”, “1971”, “Panon Poe”, dan “Waas” mengolah tema perpisahan, akhir, dan penerimaan akan kefanaan dengan lapisan bunyi eksperimental yang emosional.
Secara musikal, Basajan tetap berpijak pada identitas yang mereka sebut Priangan Psychedelic Groove: perpaduan ritme groovy, tekstur psikedelia, dan nuansa musikal Sunda. Eksplorasi ini diperkuat dengan kontribusi Rezki Delian pada permainan perkusi, menambah dimensi ritmis yang dinamis di sepanjang album.
Dari sisi visual, Album “Béwara” dibalut dengan estetika kuat. Desain logo dikerjakan oleh Donatian Argil ‘Gege’ Saga. Sementara sampul album menampilkan karya seniman Yuri Yeuyanan berjudul “Badai Beureum” (Badai Merah). Simbol pencarian identitas dan keberanian menyatakan diri sebagai sebuah béwara (maklumat).
Ilustrasi fisik album digarap oleh Syahbira Atras, yang menggabungkan gaya komik Amerika dengan unsur tradisional Sunda.
Bukan Sekadar Instrumental
Personel Basajan, Adhit, menegaskan bahwa “Béwara” bukan sekadar kumpulan komposisi instrumental. Melainkan narasi tentang spiritualitas, keseharian, dan refleksi hidup melalui bunyi.
Label Bahasa Ibu Records yang menaungi Basajan menyambut baik perilisan ini, dengan rencana promosi termasuk tur Jepang dan partisipasi dalam festival internasional.
“Béwara akan mengajak pendengar ke dalam perjalanan spiritual yang mendalam dan kontemplatif,” ujar Kemfau, Program Director Bahasa Ibu Records.
“Dengan strategi promosi yang tepat, album ini akan membawa Basajan kepada audiens yang lebih luas, baik di Indonesia maupun global,” tuturnya.
Album “Béwara” resmi dirilis pada 10 April 2026 dan sudah tersedia di berbagai platform musik digital serta dalam format full track download di laman resmi www.bahasaiburecords.id. Untuk rilisan fisik berupa CD, album ini akan hadir sebagai edisi khusus dalam perayaan Record Store Day pada 18 April 2026. []

