Jakarta – Setelah memperkenalkan semesta Kasablanka lewat single “GayA idup” dan “Kl bkn aq”, Basboi akhirnya resmi merilis album penuh keduanya bertajuk “Kasablanka”.
Album ini bukan sekadar catatan tentang gaya hidup metropolitan, melainkan potret jujur seorang perantau dari Medan yang ditempa di Bandung dan tumbuh besar secara personal maupun kreatif di Jakarta, tepatnya di kawasan Kasablanka.
“Jakarta is a junkie for lifestyle,” tegas Basboi, dan menurutnya tidak ada area yang merepresentasikan hal itu seaneh Kasablanka, di mana mall besar, apartemen mewah, anak gym, tongkrongan, pekerja kantoran, motor knalpot brong, hingga mobil mewah berdampingan dalam satu ruang.
Semua ingin naik kelas, semua ingin terlihat desirable, dan dari observasi itulah lahir album ini.
Kasablanka terasa seperti potret sehari penuh di kota metropolitan. Jika “GayA idup” menggambarkan pagi hari saat orang berlari mengejar versi terbaik dirinya, maka album ini hadir sebagai refleksi kota secara utuh: flashy tapi lelah, ganteng tapi kosong, ramai tapi kesepian.
Basboi membalutnya dengan jerk drums, glossy trap, lagu untuk nyetir malam, flirting, flexing, hingga obrolan dengan diri sendiri di jam tiga pagi.
Hasilnya adalah dunia sonik yang terdengar seperti Jakarta itu sendiri, padat, cepat, berisik, dan terus bergerak meski semua orang di dalamnya sudah kelelahan.
Namun di balik semua style, fashion, nightlife, dan lifestyle metropolitan, album ini berbicara tentang hal sederhana: bagaimana tetap menjadi diri sendiri di kota yang setiap hari mendorong semua orang untuk menjadi somebody else.
Basboi menegaskan bahwa “Kasablanka” adalah album paling jujur yang pernah ia buat. Tidak ada persona baru, tidak ada usaha menjelaskan dirinya ke orang lain, melainkan hasil dari kota-kota yang membentuknya: Medan, Bandung, dan akhirnya Jakarta.
Ia tidak anti terhadap gaya hidup kota besar, karena ia juga bagian dari itu. Ia suka mobil, fashion, perhatian, dan dunia metropolitan.
Namun ia sadar bahwa Jakarta bisa membuat orang menjadi sakaw validasi. Justru karena itu, menurutnya, hal paling rebel saat ini bukan chaos, melainkan disiplin: tetap bangun, tetap jalan, tetap kerja, tetap jaga diri.
“Mungkin sekarang hal paling rebel tuh justru tetap disiplin, tetap waras, tetap jalan terus,” ujarnya.
Secara musikal, album “Kasablanka” mempertemukan berbagai nama dari dunia berbeda yang bergerak di frekuensi sama. Ada Quest, Pierre Lynx, Raka, dan Duffy D sebagai feature yang membuat album ini semakin hidup, kadang reflektif, kadang centil, kadang chaotic.
Dari sisi produksi, album ini bergerak liar dari trap gelap dan keras hingga musik yang lebih melodis dan emosional.
Fondasi utama suara album ditangani oleh Concerto dan Panji Wisnu, bersama Ryldryl, IVAN, prodyuji.mp3, Panjoypickup, hingga kolaborator internasional seperti Igorbeats, lyricslesson dari Amerika Serikat, dan Nino dari Bangkok.
Memasuki tahun ke-10 sebagai Basboi, album ini tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membangun persona baru. Sebaliknya, ini adalah karya dari seorang musisi yang akhirnya berhenti terlalu sibuk menjelaskan dirinya ke orang lain.
Setelah cukup waktu hidup di tengah chaos, pressure, desire, dan gaya hidup metropolitan, pertanyaan yang muncul sederhana, apakah Basboi merepresentasikan energi Kasablanka, atau justru Kasablanka yang membentuk Basboi?
Jawabannya mungkin tidak terlalu penting. Karena bagi Basboi, hidup tidak selalu soal menemukan jawaban paling benar, melainkan soal keberanian untuk mulai menanyakan pertanyaan yang tepat.
Album “Kasablanka” kini sudah tersedia di seluruh Digital Streaming Platform (DSP), menjadi karya yang menegaskan Basboi sebagai salah satu suara paling jujur dari generasi musik urban Indonesia. []

