Diketahui, IPB University menjadi salah satu perguruan tinggi yang ikut terlibat dalam pengelolaan dapur MBG atau SPPG sebagai bagian dari program pemerintah.
Pihak kampus belum memberikan tanggapan resmi terkait penolakan mahasiswa tersebut.
Tim hubungan masyarakat IPB menyebut informasi itu akan dikomunikasikan terlebih dahulu kepada direktorat kampus.
Sementara itu, Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, sebelumnya menjelaskan keterlibatan kampus dalam pembangunan SPPG memiliki alasan strategis.
Karena menempatkan perguruan tinggi sebagai penyedia solusi berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge-based solution provider.
Menurut Alim, program MBG menyasar persoalan mendasar seperti gizi, pendidikan, dan kualitas sumber daya manusia.
Sehingga perlu dijalankan dengan pendekatan ilmiah dan berbasis data.
“Kampus memastikan desain, implementasi, hingga evaluasi dilakukan secara terukur dan berbasis data,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
BACA JUGA: Program MBG Dinilai Bebani Anggaran Pendidikan 20 Persen
Ia juga menyebut pengelolaan dapur MBG oleh kampus dapat diintegrasikan dengan sistem pangan dari hulu hingga hilir.
Mlai dari produksi, pengolahan, konsumsi, hingga aspek gizi masyarakat.
“SPPG dapat menjadi simpul yang menghubungkan rantai tersebut secara efisien, sehingga MBG berkembang dari sekadar program makan menjadi model inovasi sistem pangan,” kata Alim. []


