Jakarta – Industri musik tanah air kembali kedatangan karya bernas dari ranah pop alternatif. GANGGA, musisi sekaligus penulis lagu asal Jakarta yang memiliki nama lengkap Gangga Kusuma, secara resmi memperkenalkan Extended Play (EP) terbarunya yang diberi tajuk “5 hours apart, 2017”.
Album mini berisikan tiga trek ini sekaligus bertindak sebagai pembuka gerbang bagi rangkaian materi album studio kedua sang musisi. Kehadiran karya ini melanjutkan rekam jejak produktivitas GANGGA pasca-perilisan single “SHE” pada penghujung tahun 2025 lalu.
Secara konseptual, “5 hours apart, 2017” memetakan sebuah perjalanan psikologis seseorang yang berupaya merangkul dan memahami realitas hubungan yang telah terenggut oleh jarak maupun waktu.
Narasi dalam EP ini bergerak secara linier, bermula dari fase pengkhianatan serta kepedihan ditinggalkan, merambah ke dalam lembah duka dan penyesalan mendalam pascakematian orang terkasih, hingga berujung pada kerinduan akut yang mengaburkan batas antara memori dan angan-angan.
Alih-alih menyajikan resolusi yang sederhana, jajaran lagu dalam karya ini menegaskan tesis bahwa esensi cinta kerap kali melampaui batas fisik; ia tetap tinggal meski subjek dan relasinya telah sirna ditelan masa.
“Di suatu tempat di masa lampau, lagu itu masih terus berputar, suaranya telah lama tiada,” ungkap GANGGA.
Dalam menggodok aransemen musikalitas album mini ini, GANGGA menggandeng sejumlah produser kenamaan. Dua lagu dalam EP tersebut dikerjakan bekerja sama dengan produser asal Los Angeles, Spathies, sementara satu trek lainnya ditangani oleh musisi sekaligus produser tanah air, Will Mara.
Selain menawarkan warna musikal yang matang, proyek ini juga dirancang untuk menjaga kesinambungan naratif dengan diskografi GANGGA sebelumnya. Benang merah emosional dari karya-karya terdahulu seperti “Blue Jeans” dan “Whiskey Bottle” tetap dirajut rapi dalam lanskap sonik EP terbaru ini.
Tiga lagu yang tersemat di album mini ini merangkum tiga komposisi yang masing-masing membawa bobot emosi yang berbeda.
Tembang “Dear April”, yang dipasang sebagai nomor pembuka ini menyoroti situasi ketika seseorang telah mendedikasikan seluruh aspek emosionalnya dalam sebuah hubungan, namun harus menghadapi kenyataan pahit berupa pengabaian.
Posisi sang narator yang menaruh pengharapan besar menciptakan ironi tersendiri. Simbol “April” dihadirkan sebagai metafora universal tentang kasih sayang, dibarengi asa untuk dapat kembali memulihkan kepercayaan diri dalam mencintai di masa mendatang.
Berikutnya ada “I Will” yang menghadirkan nuansa yang jauh lebih intim dan melankolis, lagu ini dipersembahkan untuk mengenang sosok yang telah berpulang.
Lagu “I Will” merekam kepedihan atas jurang pemisah dimensi, disertai rasa bersalah serta penyesalan mengenai kesempatan-kesempatan yang luput untuk menyelamatkan atau memberikan perlakuan yang lebih baik semasa ia masih hidup.
Di penghujung ada nomor “Moonlight” yang dipilih sebagai fokus utama rilisan (focus track). Tembang ini menerjemahkan kerinduan yang mendalam menjadi sebuah perjumpaan yang menyerupai ilusi mimpi.
Lagu ini merajut kepingan memori masa lalu dengan harapan agar sang narator dapat bersua kembali dengan figur terkasih di bawah naungan sinar rembulan.
Penyambutan EP “5 hours apart, 2017” turut diperkuat oleh arahan artistik visual berkonsep dokumenter yang intim.
Pemanfaatan elemen potret, latar ruang-ruang yang sunyi, serta visualisasi benda-benda yang mengalami kerusakan dihadirkan sebagai artefak emosional yang merekam kerentanan serta ikatan batin yang belum tuntas terselesaikan.
Seluruh rangkaian lagu dalam EP “5 hours apart, 2017” kini telah tersedia dan dapat diakses melalui berbagai platform streaming digital.[]


