Jakarta — Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak besar terhadap sektor pendidikan. Sebanyak 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat bencana tersebut.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyampaikan data itu dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Atip, gempa berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten.
“Sebanyak 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat. Dampaknya dirasakan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” ujar Atip.
Ribuan Ruang Kelas Mengalami Kerusakan
Atip menjelaskan, dari 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 ruang mengalami kerusakan.
Jumlah tersebut mencapai sekitar 63,7 persen dari total ruang kelas yang diperiksa.
Selain ruang kelas, gempa juga merusak sejumlah fasilitas pendidikan lain. Kerusakan terjadi pada laboratorium, perpustakaan, sanitasi, hingga rumah dinas guru.
Dari 1.159 sekolah yang telah memberikan laporan, sebanyak 923 sekolah menghentikan kegiatan belajar sementara.
Sementara itu, 30 sekolah masih menjalankan pembelajaran tatap muka, 35 sekolah menggunakan sistem sekolah darurat, dan 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Pembelajaran Dialihkan ke Tempat Aman
Atip mengatakan pemerintah mengarahkan sekolah untuk menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi di lapangan.
Kebijakan tersebut mengikuti arahan Gubernur NTT agar siswa belajar dari rumah atau lokasi pengungsian.
Langkah itu dilakukan untuk menghindari risiko bangunan sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa susulan.
“Kebijakan pembelajaran dari rumah dan tempat pengungsian dilakukan agar warga sekolah terhindar dari bangunan yang berpotensi roboh,” kata Atip.
Kemendikdasmen Siapkan Bantuan Pendidikan
Kemendikdasmen terus melakukan sejumlah langkah penanganan dampak gempa di sektor pendidikan.
Upaya tersebut meliputi pendataan kebutuhan pendidikan, penyaluran bantuan dan santunan, serta penyusunan panduan pembelajaran masa darurat.
Dalam panduan tersebut, Kemendikdasmen menekankan pembelajaran materi penting, seperti literasi, numerasi dasar, dan dukungan psikososial bagi siswa.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan ruang kelas darurat secara bertahap bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Sebanyak 100 tenda ruang kelas akan didistribusikan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Gempa Susulan Masih Terjadi
BNPB mencatat hingga Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, jumlah gempa susulan setelah gempa utama mencapai 3.752 kejadian.
Berdasarkan informasi BMKG, aktivitas gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Namun, kekuatan gempa susulan diperkirakan lebih kecil dibandingkan gempa utama.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi resmi terkait perkembangan kondisi pascabencana.[]


