Samsung, misalnya, memperluas program Galaxy Forever yang memungkinkan konsumen membayar setengah harga perangkat melalui cicilan selama satu tahun, sebelum memutuskan untuk melakukan upgrade atau melunasi sisa pembayaran.
Counterpoint menilai strategi produsen kini tidak lagi sekadar mengejar volume penjualan, tetapi juga meningkatkan margin keuntungan melalui perangkat kelas atas.
Analis Senior Counterpoint lainnya, Karn Chauhan, mengatakan siklus penggantian smartphone yang semakin panjang membuat konsumen lebih memilih membeli perangkat premium yang dinilai memiliki usia pakai lebih lama.
Dalam persaingan pasar global, Apple masih menjadi pemimpin dengan pangsa pasar 65 persen pada semester pertama 2026.
Penjualan perusahaan asal Cupertino itu tumbuh 9 persen berkat performa seri iPhone 17, meski dominasinya mulai mendapat tekanan dari merek-merek China seperti Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo.
Samsung berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 19 persen. Pertumbuhan penjualannya ditopang oleh seri Galaxy S26, termasuk fitur Privacy Display yang menjadi salah satu daya tarik utama perangkat tersebut.
Meski Dana Moneter Internasional (IMF) masih memperkirakan inflasi global tetap tinggi dan pemulihan ekonomi berlangsung tidak merata, produsen smartphone diperkirakan akan terus memperkuat fokus pada segmen premium karena menawarkan keuntungan yang lebih besar di tengah kondisi pasar yang menantang. [cna]
Baca juga: Itel Power 80 Resmi Diluncurkan, Tawarkan Durabilitas Ekstrem dengan Baterai 7.000 mAh
Baca juga: Mulai Juli 2026, Registrasi SIM Card Wajib Scan Wajah
Baca juga: Modus Penipuan Silent Call, Rekening Bisa Terkuras


