“Kami ingin melihat bagaimana bahasa daerah mampu menembus batas-batas kultural. Tidak hanya dari sisi strategi pasar yang dilakukan produsen musik, tetapi juga bagaimana audiens di luar Indonesia Timur menerima, mengapresiasi, hingga menjadikan identitas tersebut sebagai bagian dari tren nasional,” jelasnya.
Untuk mengkaji fenomena ini, Dody menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan perspektif sosiolinguistik.
Data penelitian diperoleh melalui analisis lirik lagu-lagu pop Indonesia Timur yang masuk jajaran top chart Spotify, wawancara mendalam dengan produsen musik, serta wawancara terstruktur mengenai sikap bahasa kepada pendengar aktif Spotify, baik yang berasal dari kawasan Indonesia Timur maupun dari daerah lainnya.
Seluruh data kemudian dianalisis secara tematik dan integratif guna menemukan pola hubungan antara bahasa, identitas, dan industri musik digital.
Penelitian ini ditargetkan menghasilkan pemetaan pola sosiolinguistik serta tipologi pemaknaan audiens di platform digital.
Selain menjadi kerangka konseptual dalam memahami mekanisme hilirisasi musik lokal, hasil riset tersebut juga akan dipublikasikan dalam jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 hingga SINTA 4.
“Hilirisasi musik lokal menjadi bukti bahwa produk budaya daerah memiliki daya saing yang tinggi di industri kreatif. Kami berharap hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan akademis sekaligus panduan praktis bagi pengembangan industri kreatif berbasis budaya populer digital di Indonesia,” tutupnya. []


