JAKARTA, Opsi.id – Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar berhati-hati menangani polemik dugaan penyadapan ilegal yang belakangan menyeret sejumlah nama dan memicu ketegangan politik.
Reza menyarankan agar pemerintah tidak memperluas persoalan tersebut ke tuduhan makar.
Menurutnya, perkara sebaiknya cukup ditempatkan dalam konteks dugaan pelanggaran prosedur penyadapan ilegal.
Pernyataan itu disampaikan Reza dalam wawancara bersama jurnalis senior Don Bosco Selamun di program Bang Don Zuper Opini yang ditayangkan Tutur Media, Sabtu (7/11/2026).
“Sudahlah, berhenti saja di pasal tentang penyadapan ilegal. Stop,” kata Reza dalam wawancara tersebut, dilansir Minggu (8/11/2026).
Ia mengakui, secara pribadi dirinya belum sepenuhnya puas apabila persoalan hanya berhenti pada aspek prosedural.
Namun, ia mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul apabila proses hukum berkembang hingga membuka substansi percakapan hasil penyadapan.
Menurut Reza, jika materi penyadapan diperdengarkan dalam persidangan, bukan tidak mungkin muncul pembicaraan sensitif yang berkaitan dengan relasi antara penguasa, pengusaha, hingga kepentingan oligarki.
Ia bahkan menyinggung kemungkinan terungkapnya berbagai bentuk negosiasi antara pemegang kekuasaan dan pengusaha.
Reza mengaku tidak terlalu optimistis bahwa seluruh indikasi pelanggaran hukum yang mungkin muncul dari materi penyadapan akan ditindaklanjuti secara konsisten oleh lembaga penegak hukum.
Ia mencontohkan sejumlah perkara yang menurutnya memunculkan nama-nama baru dalam proses persidangan, tetapi belum tentu seluruhnya berujung pada langkah penegakan hukum.
Khawatir Jokowi dan Gibran Bereaksi
Dalam dialog tersebut, Reza juga menyinggung kemungkinan reaksi politik apabila Jokowi dan Gibran merasa disudutkan oleh perkembangan perkara penyadapan.
Ia menyebut, di tengah berkembangnya persepsi publik bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan kepentingan kelompok politik tertentu, ada potensi munculnya respons balik.
“Kalau Gibran dibikin marah, Jokowi dibikin marah dengan asumsi yang saya katakan tadi, kalau mereka marah, mereka buka hasil penyadapan itu bagaimana?” ujarnya.
Baca juga: Warganet Malaysia Kecam Perlakuan terhadap Jokowi di Persidangan: Hormati Dia sebagai Manusia
Reza mengingatkan bahwa materi penyadapan yang belum terungkap ke publik berpotensi menjadi bola liar apabila tersebar melalui media sosial.
Bahkan, menurutnya, potongan-potongan rekaman bisa beredar secara bertahap, baik yang asli maupun yang belum terverifikasi.
Situasi tersebut dikhawatirkan semakin memperkeruh suasana politik nasional.
Ingatkan Risiko Perang Kartu As Elite
Reza menggambarkan dinamika yang berkembang sebagai situasi saling berhadapan dengan kartu as masing-masing.
Ia menilai, apabila masing-masing pihak membuka informasi yang selama ini disimpan, dampaknya bisa meluas dan sulit dikendalikan.
Dalam dialog itu, Reza juga mengingatkan bahwa konflik antarelite tidak selalu menghasilkan keuntungan politik bagi pihak yang memulainya.
Baca juga: Burhanuddin Muhtadi Beri Nilai 9 untuk Jokowi Saat Hadiri Sidang Ijazah, Soroti Kemampuan Jaga Emosi
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dampaknya terhadap popularitas Prabowo, ia mengingatkan bahwa pembukaan materi penyadapan di ruang sidang justru bisa membawa konsekuensi yang tidak diharapkan.
Karena itu, Reza meminta semua pihak menahan diri dan tidak terburu-buru melontarkan pernyataan yang dapat memperbesar ketegangan.
“Jangan terlalu banyak komentar. Kartu as kalian sudah dipegang,” ucapnya.
Ia berharap proses penegakan hukum tetap berjalan secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, tanpa menjadikan persoalan hukum sebagai arena pertarungan politik antarkelompok elite. []

