New Jersey, Opsi.id – Tim nasional Spanyol tampil nyaris sempurna untuk menaklukkan Argentina dan mempertahankan dominasi mereka di sepak bola dunia.
La Roja mengalahkan juara bertahan Argentina di final Piala Dunia 2026 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu, sekaligus meraih gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah mereka.
Keberhasilan Spanyol tidak hanya ditentukan oleh satu momen, tetapi merupakan hasil dari konsistensi sepanjang turnamen.
Pasukan Luis de la Fuente hanya kebobolan satu gol selama kompetisi, tidak terkalahkan dalam seluruh pertandingan, dan memperpanjang rekor tanpa kekalahan menjadi 38 laga.
Generasi Muda Jadi Kunci
Spanyol datang ke Piala Dunia dengan salah satu skuad termuda di turnamen, berusia rata-rata 26,19 tahun.
Pilar-pilar utama mereka berasal dari generasi baru seperti Lamine Yamal (19), Pau Cubarsi (19), Pedri (23), dan Nico Williams (24).
Meski minim pengalaman dibandingkan Argentina maupun Brasil, para pemain muda ini menunjukkan kedewasaan bermain yang luar biasa sepanjang turnamen.
Bangkit Setelah Awal yang Sulit
Perjalanan Spanyol tidak langsung mulus.
Mereka mengawali turnamen dengan hasil imbang tanpa gol melawan debutan Tanjung Verde (Cape Verde), hasil yang sempat memunculkan keraguan terhadap peluang mereka menjadi juara.
Baca juga: Dulu Digendong Messi, Kini Yamal Jadi Lawan di Final Piala Dunia 2026
Namun setelah itu, La Roja terus berkembang. Mereka mengalahkan Arab Saudi dan Uruguay di fase grup.
Lalu menyingkirkan Austria, Portugal, Belgia, hingga Prancis di fase gugur sebelum mencapai partai puncak.
Mikel Merino menjadi pahlawan dari bangku cadangan lewat gol-gol penentu saat menghadapi Portugal dan Belgia.
Bukan Hanya Tentang Lamine Yamal
Meski menjadi sorotan dunia, Lamine Yamal bukanlah satu-satunya tumpuan Spanyol.
Pencetak gol terbanyak Spanyol justru Mikel Oyarzabal dengan lima gol. Sementara Ferran Torres mencetak gol paling penting, yakni gol kemenangan di final.
Mikel Merino dan Pedro Porro juga memberikan kontribusi besar sepanjang turnamen.
Yamal sendiri hanya mencetak satu gol, tetapi tetap memainkan peran vital melalui kreativitas, kemampuan membuka ruang, serta memenangkan penalti saat semifinal melawan Prancis.
Taktik yang Melumpuhkan Argentina
Di final, Luis de la Fuente kembali menerapkan pendekatan yang sukses saat mengalahkan Prancis.
Spanyol menguasai sekitar 65 persen penguasaan bola dan mengontrol tempo pertandingan melalui lini tengah.
Argentina kesulitan mengembangkan permainan, bahkan hanya mampu melepaskan dua tembakan sepanjang 120 menit tanpa satu pun mengarah ke gawang.
Baca juga: Final Piala Dunia 2026: Spanyol Tantang Argentina, Duel Messi vs Yamal
Lionel Messi dan rekan-rekannya dibuat frustrasi oleh pressing tinggi serta organisasi pertahanan Spanyol yang disiplin.
Situasi Argentina semakin sulit setelah Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua pada masa injury time babak kedua.
Memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Spanyol akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-106 melalui tendangan keras Ferran Torres yang memastikan kemenangan La Roja.
Era Baru Dominasi Spanyol
Dengan status sebagai juara Eropa sekaligus juara dunia, Spanyol diprediksi akan menjadi kekuatan utama sepak bola internasional dalam beberapa tahun ke depan.
Sebagian besar pemain inti mereka masih berada di usia muda dan diperkirakan mencapai puncak performa menjelang Piala Dunia 2030, yang akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko.
Kontrak pelatih Luis de la Fuente yang diperpanjang hingga 2028 semakin memperkuat optimisme bahwa era keemasan baru sepak bola Spanyol baru saja dimulai. []


