Vietnam Masuk Emerging Market, Indonesia Diminta Tak Kehilangan Daya Tarik bagi Investor Global

Jakarta – Kenaikan status Vietnam dari frontier market menjadi secondary emerging market dalam indeks FTSE Russell menambah persaingan di kawasan Asia Tenggara dalam memperebutkan aliran modal global. Perubahan tersebut membuat Vietnam kini berada dalam kelompok pasar berkembang yang sama dengan Indonesia.

‎FTSE Russell secara resmi memberlakukan perubahan klasifikasi Vietnam mulai Senin, 21 September 2026. Keputusan tersebut menjadi tonggak penting bagi pasar modal Vietnam setelah bertahun-tahun melakukan pembenahan untuk meningkatkan akses dan daya tarik bagi investor asing.

‎Reklasifikasi itu juga berpotensi membawa tambahan aliran modal yang cukup besar ke Vietnam. FTSE memperkirakan perubahan status tersebut dapat menarik hingga sekitar US$6 miliar ke pasar saham Vietnam. Antisipasi terhadap masuknya Vietnam ke kelompok emerging market juga telah mendorong peningkatan aktivitas investor asing di bursa negara tersebut.

‎Data Ho Chi Minh Stock Exchange (HOSE) menunjukkan investor asing mencatat pembelian bersih sekitar 2,7 triliun dong atau sekitar US$104 juta pada pekan sebelum perubahan klasifikasi berlaku. Meski demikian, secara kumulatif investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih di pasar saham Vietnam.

‎Implementasi kenaikan status tersebut juga tidak langsung dilakukan secara penuh. FTSE Russell menerapkan bobot Vietnam secara bertahap, dimulai 10% pada September 2026, kemudian meningkat menjadi 30% pada Maret 2027, 65% pada Juni 2027, dan mencapai 100% pada September 2027. Dengan demikian, dampak terhadap arus investasi diperkirakan berlangsung secara bertahap seiring meningkatnya bobot Vietnam dalam indeks global.

‎Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, mengatakan perkembangan tersebut semestinya menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin menjaga kredibilitas pasar modal dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.

‎Menurut dia, masuknya Vietnam ke kelompok emerging market membuat persaingan mendapatkan dana investor global semakin terbuka. Sebelumnya, posisi Vietnam sebagai frontier market membuat pasar tersebut berada pada kategori yang berbeda dengan Indonesia dalam sejumlah benchmark investasi global.

‎”Indonesia mestinya jadi terpacu untuk menjaga kredibilitas pasar modalnya, kondusivitas investasinya karena sekarang pesaingnya bertambah di kategori emerging market,” ujar Noval dalam keterangannya dikutip Rabu, 23 September 2026.

‎Ia menjelaskan, perubahan klasifikasi tersebut dapat membuat Vietnam menjadi salah satu alternatif baru bagi investor institusional global yang sebelumnya memiliki keterbatasan eksposur terhadap pasar Vietnam karena statusnya sebagai frontier market.

‎”Kalau kemarin-kemarin Vietnam tidak dilirik big fund karena masih dalam kategori frontier market, maka sekarang Vietnam sudah jadi alternatif investasi bagi big fund atau investor institusional global,” katanya.

‎Menurut Noval, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bagi Indonesia karena dana investasi global pada dasarnya memiliki banyak pilihan dalam menentukan negara tujuan investasi.

‎Dengan bertambahnya satu negara dalam kelompok emerging market, persaingan untuk mendapatkan alokasi portofolio dari investor institusional global pun menjadi semakin ketat.

‎”Ini tentu saja bisa mengurangi kue investasi bagi pasar modal Indonesia,” ujarnya.

‎Meski demikian, potensi tersebut tidak serta-merta berarti investor akan memindahkan dananya dari Indonesia ke Vietnam. Keputusan investasi tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari prospek ekonomi, valuasi saham, likuiditas, stabilitas pasar, tata kelola, hingga kemudahan akses bagi investor asing.

‎Namun, Noval menilai masuknya Vietnam ke emerging market dapat menjadi pemicu bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk mempercepat pembenahan struktural.

‎Menurut dia, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan statusnya sebagai negara emerging market, tetapi perlu memastikan kualitas pasar modal tetap kompetitif dibandingkan negara lain dalam kategori yang sama.

‎”Ini tentunya harus menjadi perhatian bagi otoritas pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus semakin serius dalam mereformasi pasar modal Indonesia,” tegasnya.

‎Ia menilai sejumlah isu struktural yang selama ini menjadi bagian dari pembahasan reformasi pasar modal perlu digarap lebih serius. Di antaranya persoalan free float, demutualisasi bursa, serta konsistensi dalam menegakkan aturan pasar modal.

‎”Isu-isu seperti free float, demutualisasi, serta disiplin dalam menegakkan aturan harus digarap lebih serius dan secepatnya supaya Indonesia tidak kehilangan kredibilitas dibanding emerging market lainnya,” kata Noval.

‎Pandangan tersebut muncul di tengah langkah Vietnam melakukan sejumlah reformasi untuk memenuhi standar yang ditetapkan FTSE Russell.

‎Dalam penilaian Maret 2026, FTSE menyebut Vietnam telah memenuhi kriteria untuk memperoleh status Secondary Emerging Market, antara lain setelah melakukan pembenahan infrastruktur pasar dan menghapus kewajiban prefunding bagi investor institusional asing melalui penerapan mekanisme non-prefunding. Vietnam juga membangun mekanisme formal untuk menangani transaksi yang gagal (failed trades).

‎Reformasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu Vietnam memperoleh akses lebih besar ke indeks global. FTSE sebelumnya memantau Vietnam sejak 2018 untuk kemungkinan kenaikan klasifikasi dari frontier ke emerging market. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Dihina Gurunya, Siswi SMP di Medan Didatangi Polisi

Medan - Seorang siswi SMP Negeri 28 Kota Medan,...

Kembali Berulah, Dua Residivis Maling di Mamuju Ditangkap Polisi

Mamuju - Kembali berulah, dua residivis maling, EG dan...

Pansus DPRD DKI Dorong Bapenda Segera Pasang E-Trap, Tingkatkan PAD dari Sektor Perparkiran

‎Jakarta - Ketua Panitia Khusus (Pansus) Tata Kelola Perparkiran...

Ahli Waris Priyo Budisantoso Belum Terima Pembayaran dari ACT, Kasusnya Bergulir ke Jalur Hukum

‎Jakarta — Konflik hukum antara ahli waris mendiang Priyo...

KPK Bidik Belasan Aset Mewah Ipda Yayat dalam Pusaran Suap Bupati Bekasi

Bekasi, OPSI.ID - Anggota Intelkam Polsek Cimanggis, Ipda Yayat...

Santai Sore Vol. 39 Hadirkan Maysha Jhuan hingga MIRZATAMI di Baba Ramu Gading Serpong

Jakarta - Rakit Creative kembali menghadirkan acara musik rutin...

RAMENGVRL Awali Era #BADDIEPUSAT Lewat Lagu #COWOBARU

Jakarta - RAMENGVRL kembali menunjukkan eksistensinya di industri musik...

Hadirkan 120+ Penampil, The Sounds Project Vol. 9 Dipadati Ratusan Ribu Penonton

Jakarta - Pesta musik tahunan, The Sounds Project kembali...

Sienna Spiro Siap Gelar Konser My House Tour di Jakarta

Jakarta - Promotor Ismaya Live resmi mengumumkan bahwa penyanyi-penulis...

Berita Terbaru

Popular Categories