PEMATANGSIANTAR, Opsi.id — Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dalam rangka menjaga stabilitas inflasi daerah serta mempercepat implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan akses keuangan daerah.
Kegiatan digelar di Lantai 4 Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar, Jalan H Adam Malik, Selasa (18/8/2026).
Pada HLM tersebut juga dilakukan penandatanganan komitmen bersama penerapan Website Based Early Warning System pengendalian inflasi serta penyerahan SK TOPPIS (Toko Pantau dan Pengendali Inflasi) secara simbolis oleh Wali Kota Wesly dan Kepala Kantor Perwakilan BI Pematangsiantar Ahmadi Rahman.
Wali Kota Wesly menyampaikan, pertemuan tersebut memiliki arti strategis bagi Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar.
Menurutnya, TPID, TP2DD, dan TPAKD bukanlah tiga agenda yang berdiri sendiri, tetapi merupakan satu ekosistem kebijakan yang saling memperkuat dalam membangun perekonomian daerah yang stabil, inklusif, efisien, dan berdaya saing.
“Dalam pengendalian inflasi, kita harus memastikan kebutuhan pokok masyarakat tersedia dengan harga yang terjangkau, sekaligus memberikan kepastian pasar dan harga yang wajar bagi petani serta pelaku usaha,” katanya.
Karena itu, sebut Wesly, perlu diperkuat langkah-langkah yang antisipatif, responsif, dan kolaboratif melalui penguatan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, pemantauan harga, dan early warning system.
Dengan demikian, potensi gejolak harga dapat diidentifikasi dan ditindaklanjuti sedini mungkin.
“Selanjutnya, melalui TP2DD, digitalisasi harus diarahkan tidak hanya pada perubahan transaksi tunai menjadi non-tunai, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” terangnya.
“Sementara melalui TPAKD, kita harus memperluas akses masyarakat terhadap layanan dan pembiayaan keuangan formal, khususnya bagi pelajar, UMKM, dan masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau layanan keuangan,” lanjutnya.
Pada kesempatan tersebut, Wesly juga menyinggung pentingnya budaya menabung sejak usia dini.
Menurutnya, program Hari Indonesia Menabung harus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi keuangan pelajar dan membangun kebiasaan menabung secara berkelanjutan.
“Saya berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menghasilkan semakin banyak pelajar yang memiliki rekening dan semakin baik pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal. Saya ingin menegaskan, high level meeting ini jangan hanya menghasilkan laporan dan notulen. Saya ingin pertemuan ini menghasilkan keputusan, komitmen, dan rencana tindak lanjut yang jelas—siapa melakukan apa, kapan dilaksanakan, dan bagaimana keberhasilannya diukur,” paparnya.
Karena itu, Wesly meminta seluruh perangkat daerah, BI, instansi vertikal, perbankan, dunia usaha, dan seluruh stakeholder untuk memperkuat sinergi dan kerja sama.
“TPID harus terhubung dengan penguatan ekonomi daerah. TP2DD harus terhubung dengan peningkatan kualitas pelayanan dan tata kelola pemerintahan. TPAKD harus terhubung dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Jika ketiganya berjalan secara terintegrasi, saya optimistis kita dapat membangun perekonomian Kota Pematangsiantar yang semakin stabil, inklusif, digital, produktif, dan berdaya saing,” jelasnya.
Di momentum tersebut, Wesly menyampaikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada BI, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, seluruh perangkat daerah, instansi vertikal, perbankan, dunia usaha, dan seluruh stakeholder atas sinergi serta kontribusinya dalam mendukung pembangunan ekonomi Kota Pematangsiantar.
“Mari kita jadikan high level meeting ini sebagai momentum untuk memperkuat koordinasi, menyatukan langkah, dan mempercepat aksi nyata. Semoga pertemuan ini menghasilkan komitmen dan langkah nyata bagi penguatan perekonomian Kota Pematangsiantar menuju Pematangsiantar Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras,” tutupnya sembari membuka kegiatan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar Ahmadi Rahman dalam pemaparannya mengatakan pertumbuhan ekonomi Kota Pematangsiantar pada triwulan I 2026 tumbuh menguat.

“Pada grafik pertumbuhan triwulanan (%YoY), Pematangsiantar berada pada level 4,70%. Peningkatan sejalan dengan Sumatera Utara sebesar 4,98% dan nasional 5,61%. Sementara pada grafik pertumbuhan tahunan (%YoY) hingga 2025, Sumatera Utara mencatatkan angka 4,53%, nasional 5,11%, dan Pematangsiantar sebesar 4,09%,” jelas Ahmadi.
Ia menerangkan, sektor perdagangan besar menjadi penyumbang pangsa terbesar dalam lapangan usaha, yaitu 30,3% dengan pertumbuhan 7,4%.
Berikutnya, industri pengolahan sebesar 16,6% dengan pertumbuhan 0,6%, konstruksi sebesar 9,0% dengan pertumbuhan 6,0%, dan Transgud (Transportasi dan Pergudangan) sebesar 7,8% dengan pertumbuhan 7,4%.
“Konsumsi rumah tangga mendominasi pangsa pengeluaran terbesar, yakni 58,6% dengan pertumbuhan 3,80%, disusul PMTB sebesar 22,6% atau tumbuh 0,89%, konsumsi pemerintah sebesar 10,8% dengan pertumbuhan 3,24%, dan LNPRT sebesar 2,8% dengan pertumbuhan 7,72%,” tandasnya. []

