INGGRIS, Opsi.id – Perjalanan pulang ke rumah yang dilakukan Karl Bushby menjadi kisah luar biasa.
Pria asal Inggris berusia 57 tahun itu menghabiskan hampir 28 tahun untuk mengelilingi dunia dengan berjalan kaki sejauh hampir 58.000 kilometer.
Setelah menempuh perjalanan melintasi puluhan negara dan empat benua, Bushby kini semakin dekat dengan garis akhir ekspedisinya.
Ia ingin kembali ke rumah ibunya di Hull, Inggris, dengan memegang teguh satu prinsip: tidak menggunakan kendaraan selama perjalanan.
Bushby memulai petualangan tersebut pada 1 November 1998, ketika usianya masih 29 tahun.
Ia berangkat dari Punta Arenas, Cile, dalam sebuah misi yang dikenal sebagai Goliath Expedition.
Awalnya, perjalanan itu diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun.
Namun, berbagai tantangan alam, persoalan visa, konflik geopolitik, hingga pandemi Covid-19 membuat misinya berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan.
Selama perjalanan, Bushby melintasi kawasan hutan lebat, gurun, pegunungan, tundra beku, hingga berbagai medan ekstrem yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah menyeberangi Selat Bering dari Alaska menuju Rusia.
Ia juga harus berenang melintasi Laut Kaspia dan Selat Inggris untuk melanjutkan perjalanan ketika jalur darat tidak memungkinkan.
Perjalanan tersebut membuatnya melewati sekitar 30 negara di empat benua, yakni Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, dan Eropa.
Hanya 15 Tahun Benar-benar Berjalan
Meski berlangsung hampir 28 tahun, Bushby memperkirakan hanya sekitar 15 tahun yang benar-benar dihabiskannya untuk berjalan kaki.
Selebihnya tersita untuk mengurus dokumen perjalanan, menunggu persetujuan visa, serta menghadapi berbagai hambatan administratif dan geopolitik.
Rusia menjadi salah satu negara yang paling banyak menyita waktunya. Bushby bahkan menghabiskan sekitar 10 tahun untuk menyelesaikan perjalanan melintasi negara tersebut.
Pada 2012, ketika permohonan visanya ditolak, ia melakukan aksi jalan kaki sejauh sekitar 5.600 kilometer dari Los Angeles menuju Kedutaan Besar Rusia di Washington DC untuk memperjuangkan izin perjalanan.
Perjalanan itu juga beberapa kali tertunda akibat krisis keuangan global dan pandemi Covid-19.
Bushby mengakui kehidupan sebagai pengembara tidak selalu dipenuhi pengalaman menarik.
Baca juga: Pria Inggris Selamat dari Ancaman Buta, Operasi Tumor Otaknya Dibantu AI Real-Time
Ada banyak rutinitas sederhana yang harus dihadapi, mulai dari mencari tempat mencuci pakaian, mengatasi perlengkapan yang rusak, hingga berjalan berjam-jam dalam cuaca buruk.
Kehidupan Pribadi Ikut Dikorbankan
Di balik perjalanan luar biasa tersebut, Bushby harus menerima konsekuensi besar dalam kehidupan pribadinya.
Selama puluhan tahun, ia terpisah dari keluarga dan orang-orang terdekat.
Hubungan dengan keluarga tidak selalu mudah dipertahankan karena jarak dan waktu yang begitu panjang.
Ia juga mengalami dua hubungan percintaan yang akhirnya kandas akibat kehidupan nomaden yang dijalaninya.
Meski demikian, Bushby mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga dari orang-orang asing yang ditemuinya di berbagai negara.
Bantuan masyarakat setempat, mulai dari makanan, tempat tinggal, hingga dukungan selama perjalanan, menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu bertahan.
Menurutnya, pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa kebaikan manusia dapat ditemukan di berbagai belahan dunia.
Keluarga Menanti Kepulangannya
Kepulangan Bushby menjadi momen yang sangat dinantikan keluarganya.
Putranya, Adam, yang kini berusia 36 tahun, serta cucu perempuannya yang berusia 12 tahun turut menantikan kedatangannya. Bahkan, cucunya belum pernah bertemu langsung dengannya.
Ayah, saudara, dan ibunya juga menunggu momen ketika Bushby akhirnya kembali ke rumah setelah hampir tiga dekade meninggalkan kampung halamannya.
Namun, menyelesaikan perjalanan panjang tersebut ternyata menghadirkan persoalan baru bagi Bushby.
Ia mengaku mulai memikirkan bagaimana menjalani kehidupan normal setelah selama hampir separuh hidupnya mengidentifikasi diri sebagai seorang petualang.
Baca juga: Bukan Sekadar Jalan-jalan! Pengusaha Muda GAMKI Bawa Produk UMKM Indonesia ke China
Selama bertahun-tahun, seluruh aktivitas dan pikirannya terpusat pada satu tujuan, yakni menyelesaikan Goliath Expedition.
Karena itu, ia khawatir mengalami krisis identitas ketika misi yang selama ini menjadi bagian utama kehidupannya berakhir.
Impian yang Terwujud dan Pertanyaan Baru
Bushby tidak menyangka perjalanan yang dimulainya pada usia 29 tahun akan menarik perhatian masyarakat dunia.
Baginya, perjalanan tersebut bukan sekadar upaya memecahkan rekor atau membuktikan kemampuan fisik.
Ada pengalaman tentang keberanian, ketekunan, dan kebaikan manusia yang ia temukan sepanjang perjalanan.
Ia melihat banyak orang sebenarnya memiliki impian untuk meninggalkan rutinitas dan menjelajahi dunia.
Namun, tidak semua orang berani mengambil langkah untuk mewujudkannya.
Kisah Bushby menjadi gambaran bahwa sebuah impian dapat membutuhkan pengorbanan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. []

