“Kami melakukan investigasi bersama dinas kesehatan terkait. Nanti hasilnya akan kami sampaikan kepada publik, termasuk mengenai penyebab terjadinya keracunan,” katanya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, BGN menjatuhkan sanksi suspensi berat selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah. BGN juga mengajukan rekomendasi agar kepala SPPG diganti.
Saat ini, perhatian utama BGN diarahkan pada kondisi kesehatan para korban yang masih mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit.
“Fokus kami sekarang adalah memastikan kesehatan anak-anak yang masih menjalani perawatan di beberapa rumah sakit,” kata Ketut.
Pemkab Sidoarjo Catat 566 Korban
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah santri dan pelajar yang terdampak mencapai 566 orang hingga Rabu (2/9).
Pemkab juga telah mendatangi dan memeriksa langsung dapur SPPG Kalitengah, Tanggulangin.
Bupati Sidoarjo Subandi mengungkapkan, terdapat 170 SPPG yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Namun, sebanyak 31 SPPG disebut belum memiliki izin sehingga diminta menghentikan kegiatan untuk sementara.
“Dari 170 SPPG yang ada di Sidoarjo, sebanyak 31 belum memiliki izin. Untuk sementara saya minta berhenti dulu. Kami juga sudah menyampaikan hal ini kepada BGN Pusat agar pengawasannya diperketat,” ujar Subandi.
Ia menambahkan, kondisi korban yang menjalani perawatan di rumah sakit secara umum terus membaik.
Keluhan yang masih ditemukan antara lain diare, sedangkan sebagian pasien telah dinilai cukup sehat untuk dipulangkan.
“Keluhan yang tersisa sebagian besar diare dan hari ini sudah menurun. Kondisi pasien juga semakin baik sehingga sebagian nantinya bisa dipulangkan,” katanya.
Subandi sekaligus memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Kepastian itu diperoleh setelah dirinya mengecek kondisi pasien di tiga rumah sakit yang menjadi lokasi perawatan.
“Semua pasien sudah ditangani dengan baik. Informasi mengenai adanya korban meninggal tidak benar. Saya sudah mengecek langsung di tiga rumah sakit dan memastikan seluruh pasien mendapat penanganan,” tegasnya.
Ia meminta para orang tua dan wali santri tidak panik. Menurutnya, pihak rumah sakit telah diminta tidak memulangkan pasien sebelum kondisi mereka benar-benar dinyatakan pulih.
“Saya mengimbau kepada seluruh wali santri agar tidak khawatir. Anak-anak akan ditangani sampai sembuh. Kami sudah menginstruksikan rumah sakit agar pasien dipulangkan setelah kondisinya benar-benar baik,” pungkas Subandi.
Kasus dugaan keracunan ini terjadi pada Selasa (1/9), setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, serta pelajar dari sejumlah lembaga pendidikan lainnya menyantap makanan yang disalurkan melalui program MBG.
Data Pemkab Sidoarjo menyebut terdapat 566 santri dan pelajar dari 19 lembaga pendidikan di wilayah Tanggulangin yang mengalami gejala keracunan.
Sebanyak 88 orang di antaranya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. []


