Hendropriyono: Pemimpin Negara Tidak Perlu Moral

Oleh: A.M Hendropriyono

Samin Surosentiko yang dikenal rakyat Blora sebagai penganut kepercayaan aliran singkep yang bermoral baik, pada tahun 1859 menolak membayar pajak kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah menilai ia seorang yang immoral, karena ia tahu bahwa perbuatannya itu salah dan seharusnya tidak dilakukannya. Karena itu dia dituduh telah melakukan pembangkangan sipil (civil disobedience) dan harus dihukum.

Sebaliknya, di Amerika Serikat meskipun Presiden Thomas Jefferson (1743-1826) seorang protestan yang dikenal toleran terhadap agama Islam, terlibat dalam beberapa skandal sex dengan Betty Walker, Martha Wayles, Maria Cosway, dan Sally Hemings, namun telah dinilai sebagai pemimpin negara kebanggaan bangsa Amerika Serikat.

Presiden John Fitzgerald Kennedy (1961-1964) seorang yang beragama katolik yang juga terlibat skandal sex dengan Marilyn Monroe, Angie Dickinson, Priscilla Weir, Jill Cowan, dan Blaza Starr, justru dikenal dunia termasuk Indonesia sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) yang bermoral baik. Karena jasanya, maka Indonesia dapat memenangkan perang melawan Belanda, ketika merebut kembali Irian (sekarang Papua) ke pangkuan ibu pertiwi pada tahun 1962 tanpa serangkaian pertempuran yang berarti.

Demikian pula para pemimpin AS antara lain Bill Clinton yang dituduh telah melakukan pelecehan sex terhadap Paula Jones dan juga terlibat oral-sex dengan Monica Lewinsky, diakui oleh rakyatnya sebagai Kepala Negara dengan administrasi kepresidenan AS yang sangat baik.

Para pemimpin negara tersebut tidak layak disebut sebagai amoral, yang tidak tahu bahwa mereka telah salah. Tiada kesalahan jika tidak ada yang dirugikan sebagaimana halnya tiada kebenaran yang tidak berguna. Artinya, baik buruknya moral seseorang tergantung dari perspektif mana dia dipandang. Kata moral mengacu pada norma yang baik bagi Samin Surosentiko sebagai manusia, bukan sebagai seorang warganegara penjajah Hindia Belanda.

Demikian pula Thomas Jefferson, John Fitzgerald Kennedy dan Bill Clinton jika dianggap bermoral tidak baik sebagai manusia, ia tetap dianggap baik sebagai seorang pemimpin negara. Sebaliknya, jika mereka buruk sebagai manusia dan juga buruk sebagai pemimpin negara, maka berarti pemimpin negara memang tidak perlu moral.

Pancasila membahas kegalatan kategori tersebut dari aspek sosial politik, sehingga seorang manusia yang baikpun jika berada di negara yang buruk dapat terimbas buruk. Ke-tidak identik-kan tersebut yang ditengarai dalam Pancasila sebagai dasar pemikiran yang memisahkan, antara orang sebagai manusia dengan dirinya sebagai warganegara. Pemisahan yang demikian disebut sebagai sekuler dan aliran berpikirnya kemudian dikenal sebagai sekulerisme, yang pada akhirnya memisahkan antara aliran kepercayaan dan agama dengan politik negara.

Kesimpulan dialektis antara moral orang sebagai manusia dengan dirinya sebagai seorang warganegara, rawan menyesatkan sekulerisme kepada suatu kegagalan logika (logical fallacy) bahwa pemimpin negara memang tidak perlu moral. Karenanya maka para pendiri negara bangsa Indonesia sejak dini mewaspadai hal ini, dengan menyepakati Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 sebagai ideologi negara Indonesia yang akan lahir.

Kita menghendaki negara Indonesia yang baik untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang baik, atas dasar etika dan moral Pancasila.

*Ketua Senat Dewan Guru Besar Sekolah Tinggi Hukum Militer
Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Aston Villa Buka Peluang Enam Wakil Premier League di Liga Champions

Jakarta, Opsi.id - Keberhasilan Aston Villa menjuarai UEFA Europa...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Eks Kader PDIP Maluku Bergabung ke PSI, Siap Perkuat Pembangunan Indonesia Timur 

AMBON, Opsi.id – Mantan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)...

PSI Ungkap Alasan Jokowi Pilih Lampung, NTT, dan Jawa Barat untuk Safari Politik

JAKARTA, Opsi.id  – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengungkap alasan...

Jennifer Lopez Kembali dengan Kisah Cinta Baru, Office Romance Tayang 5 Juni

JAKARTA, Opsi.id  – Platform streaming Netflix kembali menghadirkan film...

Dino Patti Djalal Minta Prabowo Kurangi Kunjungan Luar Negeri

JAKARTA, Opsi.id  – Diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal,...

Daftar Skuad Piala Dunia 2026 Mulai Bermunculan, Grup B Ini Selengkapnya 

JAKARTA, Opsi.id  – Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 pada...

Ancelotti Tak Menyesal Panggil Neymar yang Cedera 

RIO DE JANEIRO, Opsi.id – Pelatih Timnas Brasil, Carlo...

Lagu Indonesia Timur Makin Mendominasi Spotify, Dosen UPRI Ungkap Rahasianya

Makassar, OPSI.ID - Kehadiran platform musik digital seperti Spotify...

Mohamed Salah Pimpin Skuad Mesir untuk Piala Dunia 2026

KAIRO, Opsi.id  – Tim Nasional Mesir resmi mengumumkan daftar...

Pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih di Nisel Terkendala, Kades Belum Teken Dokumen

NIAS SELATAN, Opsi.id  – Rencana pembangunan Gedung Koperasi Merah...

Berita Terbaru

Popular Categories