Membaca Pergerakan IHSG yang Tertekan Tajam Saat Rupiah Jeblok ke Rp17.670 per Dolar AS

*Opini: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Jakarta – Apakah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Senin, 18 Mei 2026 semata karena faktor global, atau pasar sedang mengekor pelemahan rupiah?

Pertanyaan ini penting karena koreksi IHSG kemarin tidak terjadi di ruang kosong. Pada Senin, 18 Mei 2026, IHSG kembali tertekan tajam.

Indeks sempat dibuka melemah sekitar 1,4 persen di level 6.447,97 dan tekanan berlanjut hingga perdagangan berjalan.

Pada saat yang sama, rupiah juga mencatat tekanan berat dengan menyentuh kisaran Rp17.670 per dolar AS.

Kombinasi jatuhnya indeks saham dan melemahnya rupiah adalah sinyal bahwa pasar tidak hanya sedang merespons volatilitas global, tetapi juga sedang menguji kekuatan fondasi ekonomi domestik.

Analisis global mencatat tekanan rupiah terjadi meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi, sementara cadangan devisa disebut telah berkurang sekitar 10 miliar dolar AS sepanjang tahun ini.

Masalahnya bukan sekadar IHSG turun. Dalam pasar modal, koreksi adalah hal biasa.

Akan tetapi, ketika koreksi terjadi tajam, bersamaan dengan pelemahan rupiah, tekanan keluar investor asing, kekhawatiran fiskal, dan sorotan lembaga global terhadap tata kelola pasar, maka penurunan indeks berubah menjadi pesan politik ekonomi.

Pesan itu sederhana: investor sedang mempertanyakan apakah arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini cukup kredibel, cukup disiplin, dan cukup meyakinkan.

Dalam pandangan saya, faktor global memang berperan besar, tetapi faktor domestik tidak bisa dikecilkan.

Faktor global adalah angin kencang, tetapi kualitas bangunan tetap menentukan apakah rumah hanya bergoyang atau ikut retak. Ketika konflik geopolitik meningkat, harga energi naik, dolar AS menguat, dan investor global beralih ke aset aman, hampir semua pasar berkembang akan terkena tekanan.

BACA JUGA: Giant Sea Wall Tak Hanya Lindungi Pesisir, Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Namun, tidak semua negara mengalami tekanan dengan kedalaman yang sama. Perbedaan itu ditentukan oleh kepercayaan terhadap kebijakan domestik.

Indonesia saat ini berada dalam fase yang sensitif. Pemerintahan Prabowo membawa agenda belanja besar, mulai dari program makan bergizi gratis, subsidi energi, ketahanan pangan, pertahanan, hingga berbagai program prioritas lain yang membutuhkan ruang fiskal luas.

Agenda ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat pertumbuhan dan pemerataan. Namun di mata pasar, setiap agenda besar selalu diikuti pertanyaan: dari mana uangnya, seberapa besar defisitnya, apakah utang akan naik, dan apakah disiplin fiskal tetap dijaga?

Di sinilah sentimen terhadap arah ekonomi Prabowo mulai masuk ke harga saham. Pasar bukan menolak pembangunan. Pasar bukan anti program sosial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Ahok Jawab Desas-desus Jadi Kepala Otorita Ibu Kota Negara di Kaltim

Jakarta - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja...

Dihina Gurunya, Siswi SMP di Medan Didatangi Polisi

Medan - Seorang siswi SMP Negeri 28 Kota Medan,...

Norwegia Desak Gianni Infantino Mundur, Meksiko dan Argentina Justru Beri Dukungan

JAKARTA, Opsi.id  – Krisis kepemimpinan di tubuh FIFA semakin...

BGN Perketat Pengawasan MBG, Dapur Tak Higienis Akan Ditutup Permanen

JAKARTA, Opsi.id  – Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan...

Pertumbuhan Ekonomi RI 5,29 Persen, Berkualitas bagi Siapa?

*Opini: Achmad Nur Hidayat, UPN Veteran Jakarta. Jakarta - Jika...

HP Mahal Tetap Diburu di Tengah Ekonomi Lesu, Ini Penyebabnya

JAKARTA, Opsi.id  – Di tengah perlambatan ekonomi global, tingginya...

Prabowo Ingin Anak Indonesia Lebih Pintar, Buku Pelajaran Bakal Dirombak Besar-Besaran

Pemerintah membentuk tim lintas kementerian untuk mengkaji ulang...

‎Judistira Hermawan: Pansus DPRD DKI Perketat Pengawasan, 200 Vendor Sampah Bakal Disidak

‎Jakarta - Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI...

Banggar DPRD DKI Dorong Pajak Kendaraan Listrik, Ada Potensi PAD Jakarta Tembus Rp4 Triliun

Jakarta - Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI Jakarta mendorong...

Survei LSI: Kepercayaan Publik terhadap Prabowo-Gibran Tembus 78,7 Persen

Jakarta, OPSI.ID - Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden...

Berita Terbaru

Popular Categories