Namun pasar sangat sensitif terhadap ketidakjelasan pembiayaan. Investor tidak takut pada belanja negara jika belanja itu produktif, terukur, dan dibiayai secara kredibel.
Yang ditakuti investor adalah ketika belanja terlihat besar, tetapi peta pembiayaannya tidak cukup terang, prioritasnya terlalu melebar, dan komunikasi kebijakannya tidak konsisten.
Analogi sederhananya begini. Negara seperti rumah tangga besar. Tidak masalah sebuah keluarga ingin memperbaiki rumah, menyekolahkan anak, membeli kendaraan usaha, dan membantu saudara yang kesulitan.
Akan Tetapi bank akan mulai khawatir jika keluarga itu mengambil banyak cicilan sekaligus tanpa menunjukkan pendapatan yang cukup stabil.
Kekhawatiran bank bukan karena keluarga itu punya cita cita, melainkan karena bank ingin memastikan cicilan dapat dibayar tanpa menjual aset penting atau mengorbankan kebutuhan pokok. Begitu pula investor melihat APBN Indonesia hari ini.
Kekhawatiran itu juga tercermin dari penilaian lembaga pemeringkat global.
Moody’s pada Februari 2026 merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat investment grade Baa2.
Moody’s menyoroti isu tata kelola, menurunnya prediktabilitas kebijakan, serta risiko kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia.
BACA JUGA: MBG Jadi Penggerak Ekonomi Desa, Sayur Petani Mamasa Laris Diserap Dapur Gizi
Lembaga itu juga memberi peringatan bahwa tekanan dapat meningkat jika kebijakan ekspansif tidak diimbangi reformasi pendapatan negara dan jika kerentanan eksternal memburuk.
Fitch Ratings kemudian mengambil langkah serupa pada Maret 2026 dengan merevisi outlook Indonesia menjadi negatif, meski mempertahankan peringkat BBB.
Fitch menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan, risiko pelebaran defisit fiskal, serta potensi melemahnya kredibilitas kebijakan makro.
Fitch juga memperingatkan risiko bila kebijakan pertumbuhan yang agresif mendorong tekanan terhadap fiskal, cadangan devisa, atau independensi kebijakan moneter.
Ini penting. Ketika dua lembaga rating besar sama sama memberi outlook negatif, pasar membaca bahwa isu Indonesia bukan sekadar volatilitas jangka pendek.
Ini adalah peringatan terhadap kualitas kebijakan. Investment grade memang masih dipertahankan, tetapi outlook negatif adalah lampu kuning.
Ini Artinya, peringkat belum turun, tetapi arah risikonya memburuk. Bagi investor global, lampu kuning dari lembaga rating sering kali cukup untuk menahan ekspansi portofolio, mengurangi eksposur, atau meminta imbal hasil lebih tinggi.
Koreksi IHSG juga mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas moneter.
Rupiah yang melemah membuat beban impor energi, bahan baku, dan pembayaran utang valas menjadi lebih berat. Pelemahan rupiah bukan hanya angka di layar bank. Ia masuk ke struktur biaya perusahaan, harga pupuk, BBM, LPG, obat, alat produksi, hingga ekspektasi inflasi.
Oleh Karena itu, ketika rupiah melemah dan IHSG turun bersamaan, pasar sedang membaca tekanan lintas sektor, bukan sekadar guncangan sesaat.
Bank Indonesia berada dalam posisi sulit. Jika BI menaikkan suku bunga untuk menjaga rupiah, pasar saham bisa makin tertekan karena biaya dana naik dan valuasi turun.
Akan Tetapi jika BI terlalu lunak, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut dan memperbesar ketidakpercayaan. Ini seperti dokter menghadapi pasien dengan dua gejala sekaligus: tekanan darah naik, tetapi tubuh juga lemah. Obat yang menurunkan satu gejala dapat memperberat gejala lain jika dosisnya tidak tepat.
BACA JUGA: Pramono Anung Bakal Sebar Bansos, Alarm Keloyoan Ekonomi Warga Jakarta
Di luar fiskal dan moneter, faktor tata kelola pasar juga sangat menentukan.
MSCI atau Morgan Stanley Capital International menjadi sorotan besar karena keputusan indeksnya memengaruhi arus dana global. Reuters menjelaskan bahwa MSCI adalah penyedia indeks global besar yang indeks emerging market-nya dilacak oleh aset bernilai sekitar 10 triliun dolar AS.


