Jakarta, Opsi.id – Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Yayasan Rumah Lam Horas bersama Lam Horas Film menggelar kampanye bertajuk “1000 Hati untuk Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua” di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta.
Sebanyak 1.000 flyer berbentuk hati berhasil dibagikan kepada masyarakat dalam waktu kurang dari dua jam.
Sebagai upaya meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak yang lahir, tumbuh, atau hidup dengan orang tua yang menjalani hukuman penjara.
Kampanye yang berlangsung di sekitar FX Sudirman dan Gelora Bung Karno (GBK) tersebut melibatkan sembilan relawan.
Selain membagikan flyer, para relawan juga mengajak masyarakat berdialog mengenai kondisi anak-anak yang terdampak pemenjaraan orang tua sekaligus menghapus stigma yang selama ini melekat kepada mereka.
Yayasan Rumah Lam Horas menyebut masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa di Indonesia terdapat anak-anak yang mengawali kehidupannya di dalam lembaga pemasyarakatan karena ibunya sedang menjalani masa pidana.
Baca juga: Luhut: Kemiskinan Tak Boleh Jadi Alasan Berhenti Belajar, Anak Tepi Danau Toba Bisa Mendunia
Mereka bukan narapidana, melainkan anak-anak yang tetap memiliki hak atas kasih sayang, perlindungan, pendidikan, kesempatan bermain, serta tumbuh dan berkembang secara optimal seperti anak lainnya.
Di sisi lain, ribuan anak juga harus menjalani masa kecil tanpa kehadiran ayah atau ibu yang berada di penjara.
Selain kehilangan figur orang tua, mereka kerap menghadapi stigma sosial, keterbatasan bertemu keluarga, hingga tekanan emosional yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan tumbuh kembang mereka.
Komitmen Yayasan Rumah Lam Horas
Kampanye “1000 Hati” merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Lam Horas Film dan Yayasan Rumah Lam Horas dalam memperjuangkan hak-hak anak terdampak pemenjaraan.
Komitmen tersebut berawal dari produksi film Invisible Hopes yang dirilis pada 2021 dan mengangkat kisah anak-anak yang lahir serta dibesarkan di dalam penjara bersama narapidana perempuan hamil.
Film tersebut meraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2021 dan menjadi awal berbagai kegiatan edukasi publik, kampanye sosial, hingga advokasi yang terus dilakukan hingga kini.
Ketua Yayasan Rumah Lam Horas sekaligus sutradara Invisible Hopes, Lamtiar Simorangkir, menegaskan bahwa hukuman pidana seharusnya hanya ditujukan kepada pelaku, bukan kepada anak-anak mereka.
“Seorang anak tidak pernah memilih di mana ia dilahirkan ataupun siapa orang tuanya. Namun setiap anak berhak tumbuh dengan kasih sayang, perlindungan, dan harapan. Kampanye ini mengajak masyarakat melihat mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan dukungan, bukan sebagai bagian dari kesalahan orang tuanya,” ujar Lamtiar dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2026).
Flyer berbentuk hati dipilih sebagai simbol kasih sayang dan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yang kerap luput dari perhatian dalam sistem peradilan.
Baca juga: Potret Kelam Peringatan Hari Anak Nasional di Tanjungbalai, Pelajar SD Diduga Dicabuli Pasutri
Setiap flyer memuat informasi singkat mengenai kondisi mereka serta pesan reflektif untuk menggugah empati publik.
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Banyak pengunjung CFD mengaku baru mengetahui adanya anak-anak yang lahir dan dibesarkan di dalam penjara.
Seluruh 1.000 flyer yang disiapkan habis dibagikan dalam waktu kurang dari dua jam.
Melalui momentum Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Rumah Lam Horas mengajak pemerintah, lembaga pemasyarakatan, akademisi, media, organisasi masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama memastikan tidak ada anak yang kehilangan masa depannya hanya karena keadaan yang tidak pernah mereka pilih. []


