JAKARTA, Opsi.id – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, masih berlangsung.
Erupsi menerus yang terpantau sejak Jumat (4/9) malam disertai suara gemuruh, dentuman, hingga fenomena lava fountain.
Aktivitas vulkanik tersebut berdampak pada operasional penerbangan. Hingga Minggu (6/9) pagi, empat bandara ditutup sementara sebagai langkah keselamatan akibat sebaran abu vulkanik.
Keempat bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug.
Bandara Soekarno-Hatta ditutup pukul 02.08–09.30 WIB.
Bandara Halim Perdanakusuma ditutup pukul 07.20–10.00 WIB.
Sementara Bandara Radin Inten II ditutup pukul 04.18–10.00 WIB dan Bandara Budiarto Curug pukul 06.48–09.30 WIB.
Abu Vulkanik Mencapai 14,6 Kilometer
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi menerus masih terjadi.
Pada periode pengamatan 5 September 2026 pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat satu kali gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi sekitar enam jam.
Aktivitas tersebut juga ditandai pendaran merah, lava fountain, serta suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang.
Berdasarkan pemantauan satelit Himawari dan VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut.
Abu bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya.
Tujuh Kecamatan di Serang Terdampak Abu
Sebaran abu vulkanik juga telah mencapai daratan.
Di Kabupaten Serang, abu dilaporkan berdampak pada tujuh kecamatan, yakni Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros, dan Padarincang.
Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka menjadi salah satu wilayah yang terdampak.
Suara gemuruh atau getaran juga dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah pesisir Lampung, Banten, bahkan Bandung.
PVMBG menduga suara tersebut berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.
Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer.
Status Gunung Masih Siaga
Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas sejak Juli 2026.
Pada 2 Juli 2026 terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.
Beberapa jam kemudian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Status Level III tersebut masih berlaku hingga pemutakhiran terakhir.
Meski abu telah menyebar ke sejumlah wilayah, kondisi masyarakat masih relatif terkendali.
Hingga laporan terakhir, belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat erupsi.
Sementara itu, kondisi transportasi laut di sekitar Selat Sunda masih relatif aman.
Perairan dilaporkan normal dan jalur penyeberangan Merak–Bakauheni belum mengalami gangguan.
Warga Diminta Waspada
BNPB mengimbau masyarakat yang berpotensi terdampak abu vulkanik agar tetap tenang dan menggunakan masker serta pelindung mata saat beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika konsentrasi abu meningkat, menutup sumber air dan makanan, serta membersihkan abu dengan memperhatikan keselamatan.
PVMBG juga meminta masyarakat tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Nelayan, wisatawan, dan pengguna kapal tradisional diminta menghindari kawasan tersebut.
BNPB menegaskan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampak abu vulkanik terhadap masyarakat, transportasi, serta penerbangan terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait. []
Baca juga: Gunung Sinabung Erupsi, Status Naik Jadi Level III Siaga, Abu Mengarah ke Berastagi
Baca juga: Gunung Semeru Kembali Erupsi Dini Hari Tadi


