Oleh: Dr. KH. Maman Imanulhaq
Ada paradoks dalam kekuasaan. Semakin tinggi seseorang berada di puncak, semakin besar pula godaan untuk merasa mampu mengendalikan segalanya. Jabatan, informasi, jaringan, dan loyalitas berada dalam genggamannya. Bahkan, tidak jarang muncul perasaan bahwa dirinya mampu menentukan nasib orang lain.
Namun, ada satu hal yang kerap dilupakan: manusia tidak pernah sepenuhnya mampu mengendalikan nasibnya sendiri.
Kasus Ferdy Sambo, mantan Kadivpropam Polri, dinamika penegakan hukum yang melibatkan Febrie Adriansyah, Jampidsus Kejaksaan Agung, serta perjalanan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri memberikan ruang untuk membaca kekuasaan dari perspektif yang lebih luas.
Sambo menjadi gambaran tentang bagaimana kewenangan dapat disalahgunakan ketika kehilangan kendali moral. Febrie menghadirkan refleksi mengenai informasi sebagai instrumen strategis dalam penegakan hukum. Sementara itu, perjalanan Listyo Sigit memperlihatkan kompleksitas kepemimpinan, loyalitas, dan tanggung jawab dalam sebuah institusi besar.
Ketiganya mengingatkan kita pada tiga instrumen penting dalam kekuasaan: informasi, loyalitas, dan momentum.
Informasi, Loyalitas, dan Momentum
Dalam politik dan birokrasi, informasi adalah kekuatan. Mereka yang mengetahui lebih dahulu memiliki peluang untuk mengantisipasi keadaan, menyusun strategi, dan menentukan langkah. Namun, informasi juga dapat berubah menjadi alat pengawasan, tekanan, bahkan penyalahgunaan kewenangan apabila tidak dikendalikan oleh hukum dan etika.
Kekuasaan juga membutuhkan loyalitas. Akan tetapi, loyalitas bukanlah sesuatu yang permanen. Perubahan kepentingan, pergantian kepemimpinan, dan dinamika keadaan dapat mengubah hubungan yang sebelumnya terlihat begitu kokoh.
Di sisi lain, momentum turut menentukan arah permainan. Seseorang bisa berada di puncak karena kemampuannya membaca situasi dan memanfaatkan kesempatan. Namun, momentum kemenangan tidak pernah menjadi milik seseorang untuk selamanya.
Informasi adalah kekuatan, loyalitas adalah penopang, dan momentum adalah kesempatan. Namun, tidak satu pun dari ketiganya mampu menjamin keabadian kekuasaan.
Ilusi Mengendalikan Nasib
Persoalan mulai muncul ketika manusia menganggap keberhasilan sebagai bukti bahwa dirinya mampu mengendalikan segala sesuatu.
Jabatan diperlakukan seolah-olah menjadi milik pribadi. Loyalitas dianggap sebagai jaminan keamanan. Jaringan kekuasaan diyakini sebagai benteng yang tidak mungkin ditembus.
Padahal, kekuasaan selalu memiliki batas. Jabatan tidak menghapus hukum. Pengaruh tidak menjamin keselamatan. Kemampuan mengendalikan orang lain juga tidak berarti seseorang mampu mengendalikan seluruh konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Di sinilah ironi kekuasaan terlihat. Manusia sering kali begitu sibuk mengatur nasib orang lain, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri tidak pernah sepenuhnya berkuasa atas perjalanan hidupnya.
Takdir dan Batas Manusia
Dalam perspektif Islam, kekuasaan adalah amanah, bukan kepemilikan yang abadi.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ali Imran ayat 26 bahwa Dialah pemilik segala kekuasaan. Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
Kesadaran terhadap takdir bukanlah alasan untuk berhenti berikhtiar atau menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, kesadaran itu seharusnya mendorong manusia untuk terus berusaha, menjaga amanah, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
Manusia boleh membangun strategi, memperluas jaringan, dan mengembangkan pengaruh. Namun, tidak seorang pun memiliki pengetahuan yang sempurna tentang masa depan.
Karena itu, kekuasaan semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Semakin besar kewenangan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dijaga.
Semua Ada Batasnya
Inilah pelajaran terpenting dari dinamika kekuasaan: jabatan ada batasnya, loyalitas ada batasnya, informasi memiliki batas, pengaruh tidak selamanya bertahan, bahkan momentum kemenangan pun memiliki waktunya sendiri.
Sayangnya, manusia kerap melupakan batas-batas tersebut ketika sedang berada di puncak. Ia merasa keadaan akan selalu berpihak kepadanya dan kekuatan yang dimilikinya akan terus bertahan.
Padahal, orang yang hari ini menentukan nasib orang lain, suatu saat bisa berada dalam keadaan ketika nasibnya sendiri ditentukan oleh berbagai hal di luar kendalinya.
Yang membedakan orang bijaksana dengan mereka yang terjebak dalam kekuasaan bukanlah seberapa tinggi ia mampu mencapai puncak, melainkan seberapa besar kesadarannya bahwa suatu saat ia harus turun.
Kekuasaan bisa berpindah tangan. Loyalitas bisa bergeser. Informasi dapat mengubah keadaan. Momentum bisa berbalik arah. Namun, tanggung jawab moral atas setiap tindakan akan tetap melekat pada diri manusia.
Kekuasaan sering membuat manusia merasa mampu mengatur nasib orang lain. Sementara itu, takdir mengingatkan bahwa nasib dirinya sendiri pun tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Pada akhirnya, manusia bukanlah pemilik kekuasaan. Ia hanya penerima amanah yang suatu saat harus melepaskannya dan mempertanggungjawabkan bagaimana amanah itu digunakan.
Karena itu, jangan terlalu percaya pada kekuatan ketika sedang berada di puncak. Sebab, kekuasaan yang tidak disertai kesadaran akan batas dapat melahirkan kesombongan. Dan kesombongan sering kali membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membaca perubahan keadaan, bahkan lupa bahwa dirinya pun tidak luput dari pergiliran nasib.
Pada akhirnya, semua ada batasnya. Termasuk kekuasaan, dan termasuk kemampuan manusia dalam menentukan nasibnya sendiri.[]


