Jakarta – Mahasiswa S1 Teknik Sistem Energi Institut Teknologi PLN (ITPLN), Ahmad Hafidz Susanto, membuktikan bahwa bangku kuliah bukan satu-satunya tempat untuk belajar dan berkarya. Meski baru semester tiga, ia mulai merintis usaha jadi eksekutif muda dengan mengembangkan aplikasi digital hingga meraup cuan.
Putra pertama Agus Susanto dan Heni Marlina itu meyakini, ilmu akan lebih bermakna ketika memberi manfaat bagi orang lain. Perjalanan Hafidz membangun usaha dan inovasi teknologi berangkat dari pengalaman masa kecil yang selalu berpindah tempat.
Dia mengikuti penugasan sang ayah, Agus Susanto, yang bekerja di PT PLN (Persero), hingga harus menempuh pendidikan dasar di enam sekolah berbeda di berbagai wilayah Aceh. Dari Kota Fajar, Subulussalam, Blang Pidie, Sinabang, hingga Langsa. Setiap perpindahan itu mengajarkannya beradaptasi, membangun pertemanan, dan berani menghadapi lingkungan baru.
“Sejak kecil, Ayah membiasakan saya untuk berusaha terlebih dahulu ketika menginginkan sesuatu. Tantangannya beragam, mulai dari pencapaian akademik, hafalan Al-Qur’an, hingga mencoba merancang atau merakit sesuatu secara mandiri. Saya menjalaninya dengan senang hati. Perlahan, kebiasaan itu menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba,” ujar Hafidz dalam keterangannya pada Selasa, 3 November 2026.
Kebiasaan mencoba itu tumbuh menjadi ketertarikan pada teknologi dan dunia usaha. Saat bersekolah di SMA Negeri Modal Bangsa Aceh, Hafidz mulai mengasah kepemimpinan dan kemampuan berkomunikasi. Ia kemudian merintis ercoff.id, usaha produk olahan matcha dan cokelat, sebelum memperluas kiprahnya ke bidang teknologi melalui peran sebagai Chief Marketing Officer di PT MetaDigital Official atau MetaDigital Core Labs.
“Semua pengalaman itu membentuk keberanian saya hari ini. Saya masih harus banyak belajar, tetapi saya ingin menggunakan masa kuliah untuk mulai berkarya dan mengambil tanggung jawab secara nyata,” ucap putra pertama dari tiga bersaudara itu.
Di lingkungan PLN, tempat ayahnya bekerja, Hafidz menemukan persoalan yang menarik perhatiannya: pekerjaan manual dan penyajian data yang belum selalu mudah dipahami.
Saat memanfaatkan libur semester untuk magang di PLN, ia mencoba membuat otomatisasi dan dasbor pemantauan untuk membantu pekerjaannya. Solusi sederhana itu kemudian berkembang menjadi kesempatan berkontribusi dalam pengembangan sejumlah aplikasi dan dasbor di lingkungan PLN Aceh, serta terlibat dalam Tim Inovasi PLN Aceh.
Sejumlah proyek yang dikembangkan Hafidz antara lain SIPENAPLN dan SIAGAPLN untuk mendukung pemantauan serta penanganan operasional pelanggan, Home Charging Service untuk layanan pengisian daya kendaraan listrik di rumah, serta Monitoring TM TR untuk pemantauan jaringan tegangan menengah dan rendah.
Ia juga mengembangkan NEXUSPLN, LENTERA-ACEH, dan PUSERTIF yang berkaitan dengan integrasi data, pemantauan kelistrikan, serta dukungan administrasi pengujian dan dokumen kelistrikan. Baginya, teknologi bukan sekadar tampilan aplikasi, melainkan alat untuk membuat pekerjaan lebih mudah dipahami dan ditindaklanjuti.
Ketertarikannya pada solusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari juga melahirkan gagasan CERDAYA, Takarin, dan AiCare. CERDAYA diarahkan pada pengembangan manajemen energi pintar dengan perangkat terhubung dan kecerdasan buatan untuk membantu pengelolaan konsumsi listrik. Takarin berfokus pada pemantauan nutrisi, sedangkan AiCare menyasar kebutuhan kesehatan perempuan. Hafidz mengaku selalu memulai pengembangan dari persoalan yang diamati, membuat versi awal, lalu meminta masukan calon pengguna.
“Sebuah ide belum selesai ketika berhasil dibuat. Kita masih perlu melihat apakah orang lain dapat menggunakannya dengan nyaman dan apakah solusi itu benar-benar menjawab kebutuhan mereka,” ucapnya.
Di balik berbagai proyek itu, Hafidz harus belajar mengelola waktu dan menghadapi rasa kewalahan. Tugas kuliah, praktikum, tenggat proyek, dan operasional usaha kerap datang bersamaan.
Ia pernah terlalu banyak mengerjakan hal secara manual hingga pekerjaan menumpuk. Pengalaman itu mendorongnya membangun sistem pemantauan digital, melakukan delegasi, dan berani menolak proyek ketika jadwal akademik membutuhkan perhatian. Ia menempatkan perkuliahan sebagai tanggung jawab utama, sembari menjaga komunikasi dengan tim dan klien.
Kepedulian sosial menjadi bagian lain dari perjalanan Hafidz. Saat bencana melanda Aceh, ia bersama ercoff.id dan mahasiswa asal Aceh di ITPLN menghimpun sekitar tiga ton bantuan logistik untuk masyarakat terdampak. Ketika jalur darat terhambat, koordinasi dengan berbagai pihak membuka akses pengiriman menggunakan pesawat TNI AU C-130 Hercules dari Lanud Halim Perdanakusuma.
Pengalaman itu memperkuat keinginannya untuk terus berkontribusi bagi daerah asal, termasuk melalui usaha dan pengembangan teknologi energi. Bagi Hafidz, mahasiswa dapat mulai mengambil peran dari persoalan sederhana di sekitar mereka.
“Saya ingin menggunakan masa kuliah untuk mulai berkarya dan mengambil tanggung jawab secara nyata,” katanya. []


