Jakarta — Pendeta Penrad Siagian resmi menyatakan kesiapannya maju sebagai Calon Sekretaris Jenderal Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), mendampingi Michael Wattimena sebagai Calon Ketua Umum dalam Kongres VII PIKI yang akan berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2026 di Jakarta.
Deklarasi pasangan yang mengusung tema “Bertanding Untuk Bersanding” ini digelar di Sekretariat PP GMKI, Sabtu, 25 April 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Penrad menegaskan bahwa pencalonannya bersama Michael Wattimena dilandasi oleh kesamaan visi untuk mengembalikan PIKI ke fitrahnya sebagai rumah intelegensia Kristen yang berpengaruh bagi bangsa dan negara.
“Dari beberapa calon yang muncul, saya melihat Bung Michael Wattimena paling serius dan paling siap, baik dari pengalaman maupun visi-misi yang ditawarkan. Bahkan sebenarnya saya yang lebih dulu meminang beliau, karena saya melihat ada kesamaan kerinduan untuk membawa PIKI kembali ke fitrahnya,” ujar Penrad.

PIKI Harus Kembali ke Fitrahnya
Penrad menekankan bahwa PIKI tidak boleh diposisikan sebagai organisasi kader seperti organisasi kepemudaan Kristen lainnya, melainkan sebagai wadah strategis yang menghimpun para intelektual, akademisi, dan pakar lintas bidang.
“PIKI harus menjadi kumpulan orang-orang dengan standar kepakaran tertentu, yang mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi gereja, masyarakat, dan negara. Itulah fitrah PIKI yang harus kita kembalikan,” tegasnya.
Anggota DPD RI ini mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya di PIKI periode 2015–2020, serta kiprahnya di lembaga riset dan gerakan oikumene, terjadi penurunan signifikan dalam kontribusi pemikiran Kristen terhadap arah kebijakan nasional.
“Kami pernah melakukan riset dan melihat bahwa dari era ke era, kontribusi pemikiran Kristen semakin menurun. Padahal dalam sejarah bangsa ini, sejak pra-kemerdekaan hingga beberapa dekade lalu, banyak pemikir Kristen yang turut menentukan arah republik,” jelasnya.
Menurut Penrad, kondisi tersebut menjadi alasan mendesak untuk mengembalikan PIKI ke khitahnya sebagai kekuatan intelektual yang relevan dan berpengaruh.

Respons atas Situasi Global dan Momentum Nasional
Sementara itu, Michael Wattimena dalam pemaparannya menyoroti situasi global yang penuh tekanan, mulai dari aspek ekonomi, politik, hingga keamanan. Namun di tengah turbulensi tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup baik.
“Situasi global saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kita berada dalam tekanan global, tetapi Indonesia masih bisa bertahan. Ini momentum bagi intelegensia Kristen untuk tidak diam, tetapi hadir memberi kontribusi nyata,” ujar Wattimena yang akrab disapa BMW.
Pasangan BMW–PS mengusung visi “menyatakan kasih dan kebenaran” yang diterjemahkan dalam dua dimensi utama, yakni keumatan dan kebangsaan.
Pada dimensi keumatan, mereka menekankan pentingnya penguatan peran intelektual Kristen dalam merespons isu-isu kekinian. Sedangkan pada dimensi kebangsaan, fokus diarahkan pada kontribusi konkret dalam kebijakan publik, keadilan sosial, dan penguatan persatuan nasional.
Yang menarik, pendekatan yang ditawarkan bukan bersifat populis, melainkan berbasis kerja intelektual yang sistematis.
Kawal Prolegnas dan Hadirkan Gagasan Strategis
Sebagai langkah konkret, BMW memaparkan rencana untuk mengawal Program Legislasi Nasional (Prolegnas) melalui penyusunan kajian, diskusi, serta naskah akademik yang dapat disalurkan langsung ke DPR dan pemerintah.
“Kita ingin memastikan bahwa pemikiran intelegensia Kristen tidak hanya berhenti di ruang diskusi, tetapi benar-benar masuk dalam proses pengambilan kebijakan,” ujarnya.
Diketahui, BMW adalah mantan anggota DPR RI periode 2009-2019 dari Fraksi Partai Demorkat dan saat ini aktif sebagai komisaris di PT Pertamina International Shipping (PIS) sekaligus Tenaga Ahli Menteri ESDM.

Tiga Agenda Besar: Riset, Konsolidasi, dan Distribusi SDM
Penrad kemudian merinci tiga agenda besar yang akan menjadi fokus utama untuk mengembalikan PIKI ke fitrahnya.
Pertama, memperkuat kontribusi pemikiran Kristen melalui riset dan kajian akademik yang terstruktur.
“Kita harus masuk ke ruang-ruang kebijakan dengan gagasan yang kuat, berbasis data dan penelitian. Tanpa itu, sulit bagi kita untuk kembali berpengaruh,” katanya.
Kedua, membangun ruang konsolidasi intelektual yang mampu menyatukan keragaman umat Kristen.
“Kita memiliki latar belakang yang sangat beragam—suku, sinode, mazhab, bahkan pendekatan teologi. PIKI harus menjadi rumah yang mengkonsolidasikan semua itu menjadi kekuatan bersama,” jelasnya.
Ketiga, menjadikan PIKI sebagai pusat distribusi sumber daya manusia (SDM) Kristen.
“Ada banyak kader dan pakar Kristen yang sangat berkualitas, bahkan melampaui. Tapi tidak ada rumah bersama untuk mendistribusikan mereka ke ruang-ruang strategis. PIKI harus mengambil peran itu,” tegas Penrad.
Ia juga menyoroti keterbatasan gereja dalam menjangkau ruang kebijakan publik, sehingga PIKI diharapkan hadir sebagai jembatan antara dunia intelektual, gereja, dan negara.
PIKI sebagai Rumah Besar Intelegensia Kristen
Ke depan, pasangan BMW–PS menargetkan PIKI menjadi rumah besar intelegensia Kristen yang tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga pusat produksi gagasan dan distribusi kader ke berbagai sektor strategis.
“PIKI harus menjadi rumah bersama, tempat di mana intelegensia Kristen dari berbagai latar belakang berkumpul, berkontribusi, dan melayani bangsa,” kata Penrad.
Ia juga menyatakan dukungannya terhadap rencana penempatan sekretariat PIKI di kawasan Salemba sebagai pusat aktivitas intelektual Kristen ke depan.
Harapan Menuju Kongres VII
Dalam penutupan deklarasi, Michael Wattimena dan Pdt. Penrad Siagian berharap mendapat dukungan dari para pemilik suara dalam Kongres VII mendatang.
“Kami berharap doa dan dukungan dari seluruh pemilik suara. Kami yakin niat baik ini, jika berkenan di hadapan Tuhan, akan dimampukan untuk mengembalikan PIKI ke fitrahnya sebagai kekuatan intelegensia Kristen yang berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” ucap Penrad Siagian. []


