Jakarta – Festival musik PROJEK-D Vol.5 yang digelar Dyandra Promosindo pada 5 September 2026 di De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, kembali menghadirkan program prafestival bertajuk CEKSON. Program ini dirancang sebagai ajang pencarian talenta musik orisinal dari wilayah Jawa Tengah dan DIY Yogyakarta, dengan peluang tampil di panggung utama festival serta kolaborasi merchandise edisi spesial.
Menurut Project Manager PROJEK-D Vol.5, Data Pratama, CEKSON merupakan bagian dari komitmen penyelenggara mendukung regenerasi musisi lokal agar memperoleh kesempatan tampil di panggung yang lebih besar.
“Kami ingin memberi panggung bagi suara-suara baru yang mungkin belum terdengar luas, tapi punya potensi besar untuk berkembang,” ujarnya dalam siaran pers.
PROJEK-D Vol.5 mengusung konsep baru berupa empat panggung dalam satu hari dengan tema “Sehidup Separty”. Line-up utama mencakup Hindia, .Feast, FSTVLST, 510, Down For Life, Nadhif Basalamah, The Jeblogs, dan sejumlah nama lainnya lintas genre.
Rekam Jejak CEKSON dan Dampaknya
Sejak diluncurkan, CEKSON telah menghasilkan sejumlah unit musik yang kemudian aktif di kancah lokal maupun regional. Data dari penyelenggaraan sebelumnya menunjukkan pola dampak yang konsisten:
CEKSON 2023
Malinoa & The Dog Pack (Solo) dan Mandoors (Semarang) terpilih. Malinoa & The Dog Pack mengakui bahwa penampilan di PROJEK-D Vol.2 merupakan festival pertama mereka.
“Efeknya langsung terasa, exposure besar sekali buat kami yang baru terbentuk,” kata salah satu personel.
Band tersebut kemudian kembali diundang di edisi berikutnya tanpa melalui proses submission.
CEKSON 2024
The Skit dan Heyriyok terpilih. Vokalis Heyriyok, Riyok, menyatakan kesempatan tersebut menghidupkan kembali band yang sempat vakum.
“Kami semua bekerja di industri entertainment. Kesempatan tampil di PROJEK-D menyatukan kami lagi,” ujarnya.
CEKSON 2025
Unit musik asal Purwokerto, Malu2x terpilih menjadi pemenang. Selain kesempatan tampil, mereka memperoleh dukungan pendanaan produksi video klip. Penampilan mereka di Panggung Wirama mendapat respons positif dari penonton.
Dampak CEKSON terhadap kancah musik Indonesia, khususnya ekosistem di luar Jakarta, dapat dilihat dari beberapa aspek:
Peningkatan exposure dan validasi karya
Musisi lokal yang sebelumnya terbatas pada gigs komunitas mendapatkan platform dengan audiens lebih luas. Exposure ini mendorong penambahan jam terbang panggung dan peluang undangan di event lain.
Penguatan ekosistem regional
Program ini diiringi Kelas Musik dan diskusi teknis produksi, yang membantu musisi memahami aspek profesional seperti manajemen gigs, perizinan, dan arus kas.
Model regenerasi yang terukur
CEKSON memberikan akses langsung ke panggung festival skala regional yang menampilkan musisi nasional, disertai dukungan tambahan seperti produksi visual.
Kontribusi terhadap keberagaman genre
Pemenang berasal dari berbagai aliran, memperkaya keragaman penampilan di festival.
Perspektif dari Pengalaman Lapangan
Sebagai jurnalis yang telah meliput perkembangan industri hiburan selama beberapa tahun terakhir, sekaligus pengelola program Main-Main di Cipete melalui Reallist Management yang pernah berjalan selama satu tahun tanpa sponsor, saya melihat paralel yang jelas antara CEKSON dan upaya-upaya serupa di level komunitas.
Main-Main, yang digelar rutin setiap Senin malam di Casatopia Cafe, Cipete, Jakarta Selatan, dirancang sebagai platform promosi bagi musisi independen yang sedang bertumbuh.
Hingga volume ke-32 (akhir Oktober 2025), program tersebut telah menghadirkan lebih dari 100 musisi dan band dari berbagai kota di Indonesia.
Tujuan utamanya sama, yakni memberikan panggung yang sulit didapat musisi pendatang baru, menambah jam terbang, membangun audiens, dan menciptakan simpul jejaring kreatif.
Pengalaman mengelola Main-Main memperkuat pengamatan bahwa akses panggung yang konsisten dan setara merupakan salah satu faktor kunci regenerasi.
Baik CEKSON di skala festival regional maupun Main-Main di skala komunitas, keduanya berangkat dari pemahaman yang sama: banyak karya orisinal terhambat bukan karena kualitas, melainkan karena minimnya ruang tampil yang memadai.
Dalam konteks industri musik Indonesia yang masih menghadapi tantangan distribusi, akses panggung, dan ketimpangan pusat-daerah, konsistensi program seperti CEKSON layak dicatat sebagai praktik baik.
Data partisipasi dan keberlanjutan karier para alumni mengindikasikan bahwa pemberian panggung yang terukur dapat menjadi instrumen efektif untuk memperluas aliran talenta baru.
PROJEK-D Vol.5 membuka pendaftaran CEKSON melalui kanal resmi projekdfestival.com. Pemenang tahun ini akan tampil pada 5 September 2026 dan berkolaborasi dalam merchandise spesial bersama penyelenggara.
Informasi lebih lanjut mengenai PROJEK-D Vol.5 dan CEKSON dapat diakses melalui situs resmi serta akun media sosial @projek__d. []
Eno Suratno Wongsodimedjo adalah wartawan di Opsi.id, MC, podcaster, pemerhati dan pegiat keriaan musik independen melalui Reallist Management.

