Kerusakan juga terjadi pada puluhan ribu rumah warga. BNPB mencatat sebanyak 95.567 unit rumah terdampak, dengan rincian 46.161 rumah mengalami rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rumah mengalami kerusakan berat.
Menurut Berton, warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat membutuhkan penanganan berupa hunian sementara maupun relokasi.
“Terutama kebutuhan mendesak penyediaan hunian sementara atau relokasi bagi 27.414 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat,” ujarnya.
Gempa Susulan Mulai Menurun
Di tengah proses penanganan bencana, aktivitas gempa susulan di wilayah NTT disebut mulai mengalami penurunan.
BNPB mencatat sebanyak 9.765 gempa susulan terjadi hingga 30 Agustus 2026. Magnitudo gempa susulan tersebut bervariasi, mulai dari 1,0 hingga yang terbesar mencapai 6,2.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 155 kejadian dirasakan langsung oleh masyarakat.
Meski frekuensi aktivitas seismik mulai menurun, BNPB mengingatkan bahwa gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Berton menyebut aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.
“Rangkaian gempa susulan mulai menunjukkan pola penurunan, meski diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu sejak gempa utama,” kata Berton. []


