Sejumlah wilayah masuk dalam kategori terdampak, di antaranya Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto untuk status Siaga. Sementara Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo masuk dalam status Waspada.
Peringatan Dini Tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB, atau sekitar 2 jam 31 menit setelah gempa utama terjadi.
Berdasarkan pengamatan stasiun pasang surut, tsunami terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yakni NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Tinggi tsunami terbesar tercatat di Pota, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian mencapai 1,605 meter.
Sementara tinggi tsunami terendah terukur di Bakalang, Kabupaten Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.
Dampak gempa juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. Berdasarkan data sementara hasil pemantauan dan informasi di lapangan, gempa Flores M7,7 menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka.
Kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur hingga Sikka dan Maumere. Tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.
Wijayanto mengatakan BMKG telah mengirimkan tim gabungan dari kantor pusat dan unit pelaksana teknis (UPT) untuk melakukan berbagai survei pascagempa.
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” jelasnya.
Hasil survei tersebut akan digunakan untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi wilayah terdampak.
Data yang diperoleh juga menjadi bahan pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan pembangunan kembali yang lebih aman.
Survei diprioritaskan pada wilayah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat.
Kondisi kawasan tersebut kemudian akan dibandingkan dengan daerah di sekitarnya yang relatif tidak mengalami kerusakan.
Selain pemantauan teknis, BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi pascagempa sekaligus membantu masyarakat menghadapi potensi gempa susulan.
BMKG mengimbau masyarakat tidak memasuki bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa.
Warga juga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
BMKG memastikan pemantauan aktivitas gempa susulan akan terus dilakukan. Informasi terbaru terkait perkembangan aktivitas kegempaan akan disampaikan secara berkala kepada pemangku kepentingan dan masyarakat. []


