SUBANG — Ijtima Ulama Kabupaten Subang yang digelar di Kota Subang, Minggu (11 Oktober 2026), melahirkan dua inisiatif strategis, yakni Majelis Silaturahmi Ulama Rakyat (MASURA) dan Dewan Pesantren.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH. Maman Imanulhaq, mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai langkah memperkuat peran ulama dan pesantren dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Kiai Maman, kehadiran MASURA dan Dewan Pesantren diharapkan menjadi wadah silaturahmi, konsolidasi, serta perumusan gagasan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
“MASURA diharapkan menjadi ruang silaturahmi dan konsolidasi ulama bersama rakyat. Dari sini, gagasan-gagasan keumatan dapat dirumuskan bersama dan diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Kiai Maman di Subang, Minggu, 11 Oktober 2026.
Selain MASURA, Dewan Pesantren diharapkan memperkuat sinergi antarpesantren di Kabupaten Subang. Kerja sama tersebut mencakup peningkatan mutu pendidikan, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi pesantren, hingga keterlibatan pesantren dalam pembangunan daerah.
“Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren juga memiliki peran besar dalam pemberdayaan masyarakat dan pembangunan peradaban. Karena itu, komunikasi dan kerja sama antarpesantren perlu diperkuat,” katanya.
Kiai Maman menegaskan, Ijtima Ulama tidak boleh sekadar menjadi forum pertemuan. Hasil pembahasan harus diwujudkan melalui program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ijtima Ulama bukan sekadar forum pertemuan, tetapi momentum untuk menerjemahkan nilai-nilai keagamaan menjadi gerakan sosial yang nyata. Ulama memberikan arah, pesantren membangun peradaban, dan rakyat menjadi pusat perjuangan,” ujarnya.
Ia pun mendorong agar MASURA dan Dewan Pesantren segera ditindaklanjuti melalui program konkret.
Dengan begitu, kedua inisiatif tersebut tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjawab kebutuhan dan persoalan masyarakat Subang.
Kiai Maman berharap kolaborasi ulama, pesantren, dan masyarakat dapat menjadi fondasi bagi pembangunan daerah yang mengedepankan nilai keagamaan, kemajuan, dan keadilan.
“Ulama memberikan arah, pesantren membangun peradaban, dan rakyat menjadi pusat perjuangan. Ini menjadi fondasi penting bagi terwujudnya Subang yang religius, maju, dan berkeadilan,” pungkasnya.
Ijtima Ulama Kabupaten Subang tersebut dihadiri sejumlah tokoh ulama, di antaranya KH Sulaeman, Kiai Sirojul Munir, KH Ahmad Faqot, dan Kiai Apin Salim. Hadir pula para ulama, kiai, ibu nyai, serta tokoh masyarakat lainnya.[]


