KSP Ungkap 8.617 Titik Dapur MBG Akan Ditata Ulang, Diduga Tak Sesuai Skema 3T

Jakarta – Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman mengungkapkan pemerintah akan menata ulang 8.617 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya ditetapkan di luar skema wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Dudung, langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG yang saat ini tengah dilakukan pemerintah bersama Badan Gizi Nasional (BGN).

Ribuan Titik Ditetapkan di Luar Skema 3T

Dudung menjelaskan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 menetapkan 30 kabupaten sebagai wilayah prioritas 3T. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat penetapan 8.617 titik dapur MBG melalui surat keputusan yang diterbitkan pimpinan BGN sebelumnya.

“Ditentukan 8.617 dengan SK penetapan lokasi oleh Kepala Badan yang terdahulu,” kata Dudung usai audiensi dengan Kepala BGN Nanik S. Deyang di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Karena itu, pemerintah akan meninjau kembali titik-titik tersebut untuk memastikan kesesuaiannya dengan aturan yang berlaku.

Pemerintah Evaluasi Kualitas dan Efektivitas Dapur MBG

Selain menata ulang lokasi, pemerintah juga akan mengevaluasi kualitas layanan setiap dapur MBG. Evaluasi dilakukan terhadap dapur yang belum beroperasi maupun yang sudah berjalan.

Menurut Dudung, pemerintah tidak ingin pelaksanaan program hanya berorientasi pada jumlah dapur. Sebaliknya, kualitas pelayanan dan keamanan pangan harus menjadi prioritas utama.

“Yang berkualitas, tidak mengejar kuantitas. Apakah efektif, apakah sesuai dengan aturan yang nantinya tidak menimbulkan misalnya keracunan dan sebagainya,” ujarnya.

Jumlah Penerima Manfaat Akan Diverifikasi

Dudung juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kapasitas penerima manfaat yang tercantum dalam perencanaan dengan jumlah penerima manfaat di lapangan.

Ia menjelaskan insentif operasional diberikan berdasarkan asumsi satu dapur melayani 3.000 penerima manfaat. Namun, pada kenyataannya terdapat dapur yang hanya melayani sekitar 1.000 hingga 1.500 orang.

“Kenyataannya tidak 3.000 (penerima manfaat), ada yang 1.500, ada yang 1.000. Sehingga menggelembung,” katanya.

Berdasarkan data pemerintah, saat ini terdapat 27.877 dapur MBG yang melayani sekitar 63 juta penerima manfaat. Dengan asumsi satu dapur melayani 3.000 orang, kebutuhan dapur diperkirakan hanya sekitar 22 ribu unit.

“Kalau satu dapur saja misalnya 3.000, berarti sebetulnya hanya 22 ribu, tidak 27 ribu. Nah 5.000-nya ini ke mana?” ujarnya.

Dugaan Jual Beli Titik Dapur Jadi Sorotan

Selain dugaan penggelembungan jumlah dapur, Dudung mengungkap adanya praktik jual beli titik SPPG yang kini menjadi perhatian pemerintah.

Menurutnya, surat keputusan penetapan lokasi memiliki nilai ekonomi karena dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan.

Dudung menyebut dari 8.617 titik yang ditetapkan sebelumnya, sebanyak 6.138 titik ditandatangani mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya.

“SK itulah yang kemudian akhirnya menjadikan jaminan untuk pinjam bank,” katanya.

Soroti Skema Sewa Dapur MBG

Dudung juga menyinggung adanya skema pembangunan dapur yang dinilai menguntungkan pihak tertentu. Dalam praktiknya, dapur yang dibangun oleh investor kemudian disewakan kepada negara.

Ia mencontohkan sebuah dapur yang dibangun dengan biaya sekitar Rp1,25 miliar. Namun, fasilitas tersebut disewakan kepada pemerintah dengan nilai kontrak sekitar Rp4,8 miliar untuk empat tahun dan dibayarkan di muka.

“Statusnya negara itu sewa, bukan milik,” ujarnya.

CSR Perusahaan Dipertimbangkan untuk Wilayah 3T

Di sisi lain, pemerintah tengah mengkaji opsi pelibatan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna mendukung pelaksanaan MBG di wilayah 3T.

Menurut Dudung, skema tersebut dapat membantu memperluas jangkauan layanan tanpa membebani APBN secara berlebihan.

“Kemungkinan diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang memang baik, jadi CSR-nya digunakan untuk itu,” katanya.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI

News Anchor Bongkar Cerita di Balik Layar TV

Jakarta - Sederet pembaca berita alias news...

Video Bokep 19 Detik di Emperan Toko Magelang, Viral di Media Sosial

Jakarta - Sebuah video bokep berdurasi 19 detik berisi...

Foto: Achmad Megantara, Perankan Rangga di Sinetron Dewi Rindu

Jakarta - Aktor muda Achmad Megantara didaulat untuk berperan...

Dihina Gurunya, Siswi SMP di Medan Didatangi Polisi

Medan - Seorang siswi SMP Negeri 28 Kota Medan,...

Masih Syuting, Sunil Samtani Ungkap Jadwal Tayang Film Pengabdi Setan 2: Communion

Jakarta - Produser Rapi Films, Sunil Samtani, membeberkan jadwal...

Ratih Putria Rilis Single Melangkahlah Perlahan

Jakarta - Di tengah hiruk pikuk dunia yang bergerak...

Orkes Nunung CS Angkat Fenomena Sehari-hari Lewat Single Ketemu

Jakarta - Unit orkes asal Jakarta, Orkes Nunung CS,...

Bank Jakarta dan BEI Kompak Dorong Transformasi dan Kualitas di Tengah Dinamika Ekonomi

Jakarta - Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fundamental...

Pramono Anung Proyeksikan Dukuh Atas Bakal Terhubung dengan 6 Moda Transportasi Umum

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan kawasan...

‎Perbaiki Tata Kelola PI 10 Persen, KPK: BUMD Harus Cari Untung, Bukan Masalah Hukum

Jakarta – Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan...

Tren “Jual Wajah” Muncul di China, Ledakan Drama AI Picu Perburuan Lisensi Identitas Digital

BEIJING, Opsi.id  – Ledakan industri drama pendek berbasis kecerdasan...

Jerman Tersingkir Dramatis, Paraguay Menang Adu Penalti dan Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026

Philadelphia, Opsi.id– Timnas Jerman mengalami kekecewaan besar di Piala...

Album Original Cast of Keumalahayati The Musical Resmi Dirilis

Jakarta - Sebuah karya panggung biasanya berakhir ketika tirai...

Berita Terbaru

Popular Categories