China, Opsi.id – Sedikitnya 82 orang tewas dan dua lainnya masih dinyatakan hilang setelah ledakan besar mengguncang tambang batu bara di Provinsi Shanxi, China utara, Jumat malam waktu setempat.
Media pemerintah China melaporkan jumlah korban sempat disebut mencapai 90 orang, namun kemudian direvisi menjadi 82 korban meninggal dunia.
Insiden ini menjadi bencana tambang terburuk di China sejak 2009.
Ledakan gas terjadi di Tambang Batu Bara Liushenyu pada pukul 19.29 waktu setempat.
Saat kejadian, sebanyak 247 pekerja dilaporkan sedang berada di lokasi tambang.
Lebih dari 100 orang berhasil diselamatkan, sementara ratusan personel diterjunkan dalam operasi pencarian dan evakuasi.
Presiden China Xi Jinping meminta seluruh pihak melakukan segala upaya untuk menyelamatkan korban dan merawat para pekerja yang terluka.
Pemerintah pusat China juga menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab ledakan tersebut.
Pihak yang terbukti lalai disebut akan dijatuhi hukuman berat.
Pejabat setempat mengakui terjadi kekacauan data pada awal insiden sehingga jumlah korban sempat simpang siur.
Hingga Sabtu (23/5/2026) malam, sebanyak 128 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, termasuk dua korban dalam kondisi kritis.
Sebagian besar korban diduga mengalami keracunan gas beracun.
Media pemerintah melaporkan kadar karbon monoksida di dalam tambang ditemukan melebihi batas aman.
Seorang pekerja tambang yang selamat, Wang Yong, mengaku melihat kepulan asap tiba-tiba sebelum banyak pekerja roboh akibat menghirup gas.
Baca juga: Prajogo Pangestu dan Bisnis Tambang Halmahera Timur Jadi Sorotan: Negara Diminta Tanggung Jawab
“Saya mencium bau belerang seperti saat peledakan. Saya berteriak agar semua orang lari. Saat berlari saya melihat orang-orang mulai jatuh karena asap. Setelah itu saya pingsan,” ujarnya kepada media pemerintah.
Operasi penyelamatan disebut menghadapi berbagai kendala.

