Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan Presiden Prabowo Subianto memprioritaskan pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di pantai utara (Pantura) Pulau Jawa.
Dengan demikian, ujar AHY, Giant Sea Wall yang akan memproteksi Pantura Jawa, harus bisa dibangun secara progresif.
Ketua Umum Partai Demokrat itu menuturkan, pembangunan Giant Sea Wall dilakukan di lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota. Dibangun mulai dari Provinsi Banten, Jakarta hingga membentang ke Jawa Timur.
olusi Ancaman Banjir Rob dan Penurunan Tanah
AHY menekankan, pembangunan Giant Sea Wall ini dirasa perlu dilakukan untuk mengatasi tantangan dan ancaman alam. Seperti terjadinya penurunan permukaan tanah atau land subsidence dan banjir rob.
”Ini tentunya mengancam kehidupan masyarakat di sepanjang pesisir pantai utara Jawa,” ujar AHY di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Senin, 4 Mei 2026.
AHY menegaskan, Pantura Jawa memiliki nilai yang strategis karena sudah menjadi koridor ekonomi, industri, hingga transportasi.
”Termasuk untuk logistik dan cukup banyak sentra-sentra pangan yang juga bisa terancam akibat intrusi air laut,” tutur suami Anisa Pohan itu.
Menurut AHY, jika tidak ada intervensi yang signifikan dari pemerintah, dalam hal ini melalui pembangunan Giant Sea Wall, maka diprediksi setiap tahun bisa terjadi penurunan permukaan tanah 1-20 centimeter dan terjadi peningkatan air laut.
Lindungi Ekonomi dan Pesisir
AHY menegaskan, pembangunan Giant Sea Wall diperlukan juga untuk melindungi masyarakat pesisir, nelayan. Dan diharapkan turut berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Agus mengingatkan potensi kerugian ekonomi besar jika pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall Pantura Jawa tidak segera direalisasikan.


