Menurutnya, kawasan Pantura memiliki peran sangat strategis terhadap perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 27,53% atau setara US$ 368,37 miliar, sekitar Rp 6.396 triliun.
”Oleh karena itu, untuk menghadapi ini semua apalagi kita juga tahu bahwa seringkali banjir itu juga akibat apa yang terjadi di wilayah hulu. Karena misalnya tidak mematuhi tata ruang wilayah yang sudah diatur dengan mengadopsi pendekatan lingkungan. Banyak manusia termasuk saudara-saudara kita para nelayan hidup di pesisir. Ada 17 juta dari 52 juta masyarakat di sekitar Pantura. Dan juga untuk melindungi ekonomi yang berkontribusi terhadap PDB secara nasional itu kurang lebih 23%. Jadi (Giant Sea Wall) ini adalah sesuatu yang sangat strategis,” kata AHY.
Dalam agenda kick off meeting yang dihadiri para kepala daerah, termasuk perwakilan dari kementerian/lembaga. Diharapkan dapat memberikan masukan konstruktif dalam menggeliatkan proyek strategis nasional (PSN) ini.
AHY mengaku akan menggunakan pendekatan hybrid dalam pembangunan Giant Sea Wall. Semisal menggunakan bakau sebagai penahan natural abrasi yang bisa menyerap karbon.
”Ini adalah konsep besar, mengintegrasikan banyak sektor. Oleh karena itu melibatkan banyak pihak dan tidak bisa berdiri sendiri. Kita harus membangun super team agar berjalan efektif terpadu mulai dari perencanaan hingga penganggaran,” ucap AHY.
AHY memprediksi megaproyek dari barat hingga timur Pulau Jawa ini dibangun selama 15-20 tahun, yang melibatkan sumber pendanaan tidak hanya dari APBN.
“Tapi juga kombinasi dengan investasi, kerjasama atau public private partnership dalam dan luar negeri yang tentunya dalam semangat yang saling menguntungkan,” ujar Menko AHY. []


