Jakarta – Kabar duka datang dari dunia usaha dan perminyakan nasional. Burhanuddin Bur Maras meninggal dunia pada usia 90 tahun di Rumah Sakit Siloam, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Kepergian mertua dari Yuli Yanti Hutagaol S.H., M.H., C.Med ini menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang profesional yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sosok pekerja keras, pemimpin visioner, dan figur yang berperan penting dalam perkembangan industri energi Indonesia.
Di kalangan bisnis, nama Burhanuddin Bur Maras identik dengan kepemimpinan yang tenang namun tegas. Ia dikenal luas melalui kiprahnya membangun dan membesarkan PT Ratu Prabu Energi Tbk, perusahaan yang bergerak di sektor jasa minyak dan gas.
Sebagai Presiden Direktur di Ratu Prabu Energi, Bur Maras membawa perusahaan berkembang dari perusahaan jasa energi menjadi salah satu emiten yang diperhitungkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan tahunan perusahaan juga mencatat dirinya sebagai pemegang saham sekaligus motor utama dalam pengembangan bisnis perseroan.
Profil Burhanuddin Bur Maras
Perjalanan karier Bur Maras tidak dibangun dalam waktu singkat. Mengutip catatan berbagai sumber, Bur Maras meniti dunia usaha dengan pengalaman panjang di sektor energi yang dikenal penuh tantangan, mulai dari fluktuasi harga minyak dunia hingga perubahan iklim investasi. Namun, di tengah dinamika tersebut, ia tetap berupaya menjaga keberlangsungan perusahaan melalui berbagai strategi bisnis dan diversifikasi usaha, sehingga Ratu Prabu Energi mampu bertahan melewati berbagai fase industri.
Di balik posisinya sebagai pengusaha, pria kelahiran Sumatra Selatan, 14 Juli 1936 itu juga dikenal memiliki perhatian terhadap pembangunan nasional. Baginya, industri energi bukan sekadar sektor bisnis, melainkan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pandangan itulah yang membuatnya konsisten mendorong penguatan industri migas nasional agar mampu bersaing di tengah perubahan lanskap energi global.
Meski lebih banyak berkarya di balik layar, jejak kepemimpinan Bur Maras meninggalkan pengaruh yang besar bagi perusahaan yang dipimpinnya maupun bagi banyak profesional yang pernah bekerja bersamanya. Sosoknya dikenang sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, dan lebih memilih membuktikan kemampuan melalui hasil kerja daripada sorotan publik.
Di luar dunia usaha, Burhanuddin Bur Maras juga pernah mengabdikan diri di panggung politik nasional. Ia terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2004–2009 dari Partai Demokrat mewakili Daerah Pemilihan Jawa Tengah VII.
Di parlemen, Bur Maras bertugas di Komisi VII yang membidangi energi dan sumber daya mineral, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup, bidang yang sangat sesuai dengan pengalaman profesionalnya di industri migas.
Berbekal pengalaman puluhan tahun di sektor energi, ia aktif menyuarakan berbagai isu strategis, di antaranya evaluasi skema cost recovery yang dinilai membebani negara, serta mendorong penguatan kemandirian energi nasional.
Kiprahnya di Senayan menjadi perpanjangan dari dedikasinya untuk memperjuangkan tata kelola sektor energi yang lebih berpihak pada kepentingan nasional.
Kini, Burhanuddin Bur Maras telah berpulang dan dimakamkan di San Diego Hills, Jawa Barat. Namun dedikasi, pemikiran, dan kontribusinya terhadap dunia usaha, khususnya industri energi nasional, akan tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang sektor tersebut.
Kepergian Burhanuddin Bur Maras meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, kolega, dan seluruh insan yang pernah mengenal serta bekerja bersamanya. []

