Jakarta – Setelah memperkenalkan sejumlah sisi berbeda dalam perjalanan emosionalnya lewat “Siapa Suruh Jatuh Cinta?”, “Sendiri”, dan “Tenggelam”, penyanyi sekaligus penulis lagu Sheryl Sheinafia akhirnya mempersembahkan album studio terbarunya bertajuk “Bittersweet”.
Album ini berisi sembilan lagu yang menjadi ruang bagi Sheryl untuk bercerita tentang beragam proses perjalanan hidupnya, mulai dari membuka diri, menghadapi ketidakpastian, hingga belajar memahami kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan.
Album “Bittersweet” lahir dari kesadaran bahwa tidak semua pengalaman dalam hidup harus berujung sempurna. Dalam satu cerita, hal-hal yang indah dan berat bisa hadir di waktu yang sama.
Alih-alih mencari jawaban atau memaksakan sebuah akhir, Sheryl memilih untuk menerima berbagai perasaan tersebut sebagai bagian dari perjalanan.
“Album ‘Bittersweet’ bercerita tentang proses membuka diri, sampai akhirnya belajar kapan harus melepaskan. Ada cinta, ketidakpastian, rasa bersalah, kelembutan, dan bagaimana kita tetap bertahan di antara semua hal yang sedang terjadi,” cerita Sheryl Sheinafia.
Album ini menjadi rumah baru bagi Sheryl karena menurutnya musik selalu menjadi tempat untuk memahami segala hal yang sedang berkutat dalam hidupnya.
“Aku nggak membuat album ini untuk menceritakan apa yang ku rasakan. Aku membuat album ini agar aku bisa jujur dengan perjalanan hidupku. Dimana hidup kadang bisa indah, tapi bisa menyakitkan. Itulah ‘Bittersweet’,” kata dia
Dalam sembilan lagu yang dihadirkan, Sheryl seakan memasukkan sembilan permen dengan rasa berbeda untuk didengarkan. Proses kreatif album ini juga melibatkan banyak kolaborator.
Refo dan Fauna membantu produksi di beberapa lagu, Petra Sihombing turut mendampingi pada “Lepas Kendali”, Rendy Pandugo menjadi produser untuk “Tenggelam”, sementara Will Mara memproduksi “Cara Pandang” dan “Siapa Suruh Jatuh Cinta”.
Sheryl juga berkolaborasi dengan Jo Soegono untuk “Babibu”, serta Rayhan Noor yang memproduksi lagu fokus track berjudul “Nikmatilah”.
Lagu “Nikmatilah” merepresentasikan sisi manis dari perjalanan hidup Sheryl, yakni kebebasan untuk bergerak, rasa antusias ketika mengejar sesuatu, serta keputusan untuk tetap menikmati proses di tengah perjalanan.
Kehadiran lagu ini melengkapi spektrum emosi yang telah diperkenalkan Sheryl melalui single-single sebelumnya.
Jika “Siapa Suruh Jatuh Cinta?” menangkap spontanitas dan kegembiraan ketika perasaan datang tanpa rencana, “Sendiri” menghadapi riuhnya isi kepala, sementara “Tenggelam” memberi ruang untuk mengakui ketika berada di titik yang berat, maka “Bittersweet” mempertemukan seluruh perasaan tersebut dalam satu perjalanan yang lebih utuh.
Pada akhirnya, “Bittersweet” adalah tentang belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada hal-hal yang terasa indah, ada juga yang berat, dan keduanya bisa terjadi bersamaan.
Yang terpenting, menurut Sheryl, adalah bagaimana seseorang tetap memilih untuk terus berjalan.
Album “Bittersweet” sudah dapat didengarkan di seluruh digital streaming platform sejak 4 September 2026. []

