“Kalau bicara pengelolaan ekonomi keluarga, ibu-ibu memang paling handal. Karena itu edukasi seperti ini sangat penting, apalagi sekarang banyak ibu-ibu yang sudah melek teknologi dan menggunakan layanan keuangan digital,” katanya.
Muhammad Roem juga mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah, media, dan lembaga keuangan melalui kegiatan yang diinisiasi Tiga Warna Media Network tersebut.
Menurutnya, kolaborasi bersama Bank Indonesia, OJK, dan LPS menjadi langkah penting untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat agar tidak mudah termakan hoaks maupun penawaran investasi ilegal.
Baca juga: Alfred Matos & Syakirah Noble Satukan Budaya Lewat Single Kau Selalu di Hatiku
“Makassar masih membutuhkan banyak edukasi soal pengelolaan uang dan literasi keuangan supaya masyarakat tidak mudah percaya pada berita yang belum tentu benar, investasi bodong, maupun pinjaman online ilegal,” jelasnya.
Ia juga berharap forum edukasi seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan jangkauan peserta yang lebih luas.
Dalam sesi pemaparan, Arief Noor Rachman menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global saat ini dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, perang dagang, hingga tekanan ekonomi dunia yang berdampak pada pasar keuangan internasional.
Menurutnya, salah satu dampak yang dirasakan adalah penguatan dolar Amerika Serikat akibat meningkatnya kecenderungan masyarakat global menyimpan aset dalam mata uang tersebut.
Baca juga: Libur Panjang, Pertamina Tambah 5,8 Juta Tabung LPG 3 Kg untuk Jaga Pasokan Nasional
“Ketidakpastian global membuat masyarakat cenderung menyimpan aset dalam bentuk dolar Amerika, yang menjadi salah satu penyebab penguatan kurs dolar terhadap rupiah,” jelas Arief.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen, meningkat dibanding Triwulan IV-2025 sebesar 5,39 persen.


