KAZAKHSTAN, Opsi.id – Jauh sebelum kopi, teh, atau minuman energi modern dikenal manusia, para pengembara Asia Tengah sudah memiliki minuman andalan mereka sendiri.
Namanya Kumis, minuman fermentasi dari susu kuda betina yang telah dikonsumsi selama ribuan tahun.
Minuman unik ini diyakini berasal dari budaya Botai Culture, masyarakat kuno yang hidup di wilayah Kazakhstan modern sekitar 5.000 tahun lalu.
Mereka termasuk kelompok pertama yang menjinakkan kuda dan memanfaatkan susunya untuk membuat minuman fermentasi.
Bagi lidah modern, rasa kumis sering digambarkan seperti campuran sampanye dan krim asam.
Rasanya asam, sedikit berbuih, dan memiliki kandungan alkohol alami hasil fermentasi.
Proses pembuatannya pun tergolong sederhana.
Susu kuda dimasukkan ke dalam wadah besar lalu terus diaduk hingga bakteri dan ragi alami mengubah gula susu menjadi asam dan alkohol.
Para nomaden kemudian menyimpannya dalam kantong kulit yang digantung di tenda atau pelana.
Setiap orang yang lewat biasanya memukul atau mengguncang kantong tersebut agar proses fermentasi tetap berjalan.
Kumis menjadi bagian penting kehidupan bangsa-bangsa pengembara di padang rumput Eurasia, termasuk pasukan legendaris pimpinan Genghis Khan dan Attila the Hun.
Bagi mereka, kuda bukan hanya alat transportasi, tetapi juga sumber makanan, daging, dan minuman.
Baca juga: Dukung Peningkatan Kapasitas Produksi Inalum, Komisi VII DPR RI Susun Tim Percepatan
Menariknya, susu kuda segar sebenarnya sulit diminum dalam jumlah besar karena kandungan laktosanya yang sangat tinggi dan dapat menyebabkan efek pencahar.
Karena itulah fermentasi menjadi cara terbaik untuk membuatnya lebih aman dan nyaman dikonsumsi.
Dalam tradisi Asia Tengah, bayi dan anak-anak sering diberikan kumis yang difermentasi ringan dengan kadar alkohol sangat rendah.
Sementara itu, orang dewasa biasanya mengonsumsi versi yang lebih kuat.


