Jakarta – Roemah Koffie, bagian dari Royal Agro Industri (RAI), kembali menghadirkan inovasi dengan meluncurkan roastery beans premium terbarunya bertajuk Cublak Suweng.
Produk ini memadukan biji kopi dari Gayo, Aceh dan Temanggung, Jawa Tengah, sekaligus menjadi wujud komitmen Roemah Koffie dalam melestarikan warisan budaya nusantara melalui kopi dan memperkenalkannya ke dunia internasional.
Nama Cublak Suweng diambil dari permainan tradisional Jawa yang dimainkan anak-anak dengan membentuk lingkaran sambil bernyanyi dan memindahkan kerikil dari tangan ke tangan.
Filosofi kebersamaan dan kebahagiaan sederhana yang terkandung di dalam permainan tersebut diterjemahkan ke dalam konsep kopi.
CEO Roemah Koffie, Felix TJ, menjelaskan bahwa filosofi ini diresapi menjadi tiga lingkaran makna: Inner Circle (relasi personal dengan diri sendiri), Shared Circle (relasi dengan sesama), dan Eternal Circle (relasi dengan alam).
Karakteristik biji kopi Gayo yang khas berpadu dengan sentuhan karamel, hazelnut, dan cokelat dari Temanggung menghasilkan cita rasa seimbang dan harmonis.
Proses pengolahan dilakukan dengan metode giling basah (wet hulled) dan alami (natural), sehingga menghasilkan kopi dengan keasaman rendah, rasa earthy, manis alami, serta body yang padat.
“Dengan kurasi rasa ini, kami berharap Cublak Suweng bisa menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat domestik maupun internasional untuk menikmati kopi premium khas Indonesia,” ujar Felix dalam konferensi pers di outlet Roemah Koffie PIK 2.
Commercial Director Roemah Koffie, Ryo Limijaya, menambahkan bahwa Cublak Suweng dikembangkan untuk menjawab minat masyarakat terhadap premium roastery yang semakin meningkat.
Produk ini dirancang agar tetap mempertahankan karakter kopi Indonesia yang kuat, namun fleksibel untuk dinikmati sebagai black coffee maupun dieksplorasi sebagai base espresso untuk latte dan kreasi kopi lainnya.
Keunikan produk ini juga hadir lewat kemasan yang menampilkan ilustrasi cerita rakyat kancil dan kura-kura, dengan falsafah Jawa kuno “alon-alon asal kelakon”.
Roemah Koffie berharap kemasan klasik ini dapat menjadikan Cublak Suweng sebagai oleh-oleh khas Indonesia bagi turis internasional, sekaligus memperkuat jalur ekspor.
Apresiasi turut disampaikan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, yang menilai bahwa storytelling budaya yang melekat pada produk ini merupakan unique selling point yang hanya dimiliki Indonesia.
“Jika dikemas dengan tepat, narasi seperti ini bisa membawa produk kreatif kita menjadi pemenang di panggung global,” ujarnya.
Irene juga menekankan filosofi permainan tradisional Cublak Suweng sebagai pengingat untuk tetap belajar dan melangkah demi diplomasi kopi Indonesia di ranah internasional.
Peluncuran ini juga menghadirkan pengalaman interaktif melalui sesi Tasting & Sensory Experience. Para tamu diajak mengeksplorasi profil rasa Cublak Suweng lewat presentasi Kopi Walik, serta kolaborasi dengan Boemi Botanical yang menghadirkan aroma kopi dalam bentuk botanical room fragrance.
Sebagai bagian dari ekosistem kopi 360°, Roemah Koffie bekerja sama langsung dengan petani lokal dari berbagai daerah dan mengolah bahan baku melalui fasilitas roastery di bawah PT Dewa Kopi Indonesia.
Selain Cublak Suweng, Roemah Koffie juga telah merilis varian lain bertema warisan budaya nusantara seperti Anak Daro dari Kerinci, Jambi, dan Rambadia dari Gayo, Aceh.
Produk Cublak Suweng tersedia dalam pilihan whole beans dengan grind size variatif (coarse, medium, fine) dalam ukuran 200 gr dan 500 gr, serta ground coffee dalam kemasan capsule 10 x 5,5 gram.
Konsumen dapat menemukan produk ini di seluruh outlet Roemah Koffie di Jakarta dan Tangerang, serta di gerai ritel premium seperti Grand Lucky, Kem Chicks, dan Papaya.
Ke depan, Roemah Koffie juga tengah menyiapkan program dukungan bagi petani kopi di Temanggung sebagai bentuk komitmen terhadap industri kopi berkelanjutan. []

