JAKARTA, Opsi.id – Peta persaingan politik menuju Pilpres 2029 mulai menunjukkan perubahan mengejutkan.
Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memperlihatkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada jauh di atas Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi head to head.
Dalam simulasi tersebut, Dedi Mulyadi mencapai 59 persen, sementara Prabowo Subianto berada di angka 28,3 persen.
Angka itu disebut Saiful Mujani sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilihan presiden langsung di Indonesia, ketika seorang kepala daerah mampu mendekati bahkan melampaui popularitas dan elektabilitas presiden petahana.
“Tidak pernah ada dalam sejarah, incumbent dibegitukan oleh seorang kepala daerah, seorang gubernur,” kata Saiful dalam perbincangan di kanal Podcats Quo Vadis Indonesia Todung Mulya Lubis, Jumat (14/8/2026).
Dedi Mulyadi Jadi Penantang Serius
Saiful menjelaskan, survei tersebut dilakukan pada 5–19 Juli 2026 untuk melihat perubahan sentimen masyarakat setelah satu tahun pemerintahan Prabowo.
Menurutnya, survei diperlukan karena terdapat perubahan situasi politik dan ekonomi sepanjang 2026.
Masyarakat juga semakin kritis terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Perubahan paling mencolok terlihat pada penilaian masyarakat terhadap MBG.
Jika pada 2025 sentimen terhadap program tersebut masih dominan positif, dalam survei terbaru kondisinya disebut berbalik.
Sentimen negatif terhadap MBG melonjak dari 13,5 persen menjadi 45,8 persen.
Sebaliknya, sentimen positif anjlok dari 45,2 persen menjadi hanya 19,7 persen.
Perubahan sentimen itu, menurut Saiful, kemudian ikut berkaitan dengan penilaian masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo.
Kepuasan terhadap Prabowo Ikut Tertekan
Pada survei sebelumnya, tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo masih berada di sekitar 81 persen.
Namun, memasuki 2026, berbagai kebijakan pemerintah memunculkan perdebatan publik yang jauh lebih kritis.
Saiful menyebut perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan pihaknya kembali melakukan survei.
“Apakah masih begitu rakyat melihat setelah melihat perkembangan dalam masyarakat 2026 ini?” ujar Saiful, menjelaskan alasan survei kembali dilakukan.
Yang kemudian menarik perhatian adalah posisi Dedi Mulyadi.
Dalam simulasi terbuka, Saiful menyebut persaingan Prabowo dan Dedi sudah berada dalam posisi yang relatif berimbang.
Bahkan, Dedi sedikit lebih unggul dalam margin of error.
Ketika simulasi dibuat lebih spesifik dengan daftar nama tokoh, jaraknya justru melebar.
Dedi Mulyadi disebut memperoleh sekitar 34 persen, sedangkan Prabowo 14,5 persen.
Dalam simulasi head to head, angkanya kemudian menjadi 59 persen untuk Dedi dan 28,3 persen untuk Prabowo.
“Revolusi Sosiologis” Pemilih
Saiful bahkan menyebut fenomena tersebut sebagai “revolusi sosiologis dalam perilaku pemilih.”
Pasalnya, Dedi Mulyadi bukan tokoh dari Jawa Tengah atau Jawa Timur yang selama ini menjadi basis kuat politik nasional. Ia merupakan tokoh Sunda dari Jawa Barat.
Namun, popularitas Dedi kini disebut sudah menembus batas geografis dan etnis.
“Kalau itu terjadi, this is sociological revolution in voting behavior,” ujar Saiful.
Menurutnya, Dedi mampu dikenal luas karena sangat aktif membangun komunikasi melalui media sosial.
Bahkan, tingkat pengenalannya secara nasional disebut telah mendekati tokoh-tokoh nasional yang selama ini lebih dahulu populer.
Dedi juga dinilai memiliki gaya komunikasi yang dianggap lebih dekat dengan masyarakat.
Bukan Sekadar Elektabilitas
Namun, Saiful mengingatkan agar tingginya popularitas Dedi tidak serta-merta diterjemahkan sebagai jaminan kemenangan pada Pilpres 2029.
Menurut dia, popularitas dan gaya komunikasi bukan satu-satunya ukuran memilih seorang pemimpin.
Substansi, program dan kualitas kepemimpinan tetap akan menjadi ujian berikutnya.
Ia bahkan mengingatkan masyarakat agar tidak kembali terjebak pada figur yang terlihat sangat merakyat melalui media sosial, tetapi belum teruji dari sisi substansi kebijakan.
“Jangan sampai kita menyesal terhadap ketika kita mendukung atau memilih tokoh yang kelihatan kerakyatan banget,” kata Saiful.
Dengan demikian, menurutnya, “jalan menuju 2029” sudah mulai terlihat.
Para tokoh yang berpotensi maju dalam Pilpres 2029 dinilai sudah saatnya mulai memperkenalkan gagasan, program dan visi kepada masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, popularitas bisa membuka pintu menuju Pilpres 2029, tetapi substansi yang akan menentukan apakah pemilih tetap bertahan atau berbalik arah. []
Baca juga: Survei LSI: Kepercayaan Publik terhadap Prabowo-Gibran Tembus 78,7 Persen
Baca juga: Survei Terbaru: Jika Pilpres Digelar Sekarang, Prabowo Diprediksi Kalah dari Dedi Mulyadi
Baca juga: Survei Terbaru SMRC: Separuh Publik Tak Lagi Puas dengan Kinerja Prabowo
Wawancara Selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=Mt99gg-KHDM


