Jakarta, Opsi.id – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkap alasan yang membuat dirinya tetap memilih jalur politik, meski pernah memiliki kesempatan untuk kembali memimpin perusahaan dengan tawaran gaji besar dari sektor swasta.
Bagi Ahok, pilihan terjun ke politik bukan semata-mata mengejar kekuasaan. Ada nasihat sang ayah yang terus melekat dalam pikirannya sejak masih muda.
Ahok menceritakan, sebelum masuk politik, dirinya sempat frustrasi melihat berbagai persoalan pelayanan publik dan perilaku oknum di sejumlah instansi.
Bahkan, ia pernah berpikir untuk meninggalkan Indonesia dan pindah ke Kanada.
Keinginan tersebut muncul ketika Ahok masih muda.
Seorang temannya bahkan mengajaknya tinggal di Kanada dan menawarkan tempat untuk ditinggali.
Namun, rencana itu ditentang keras oleh ayahnya.
Sang ayah mengingatkan Ahok bahwa pendidikan dan kehidupan yang telah diperolehnya tidak boleh hanya dinikmati untuk kepentingan pribadi.
“Rakyat butuh kamu,” demikian pesan ayah Ahok yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Ahok mengaku awalnya tidak memahami maksud perkataan tersebut.
Namun, sang ayah kemudian memberikan pesan yang menurut Ahok sangat menentukan.
Ia mengatakan suatu saat rakyat akan memilih Ahok untuk memperjuangkan hak mereka.
“Kalau Mau Bantu Orang Miskin, Jadi Pejabat”
Nasihat tersebut semakin kuat ketika sang ayah membandingkan kemampuan seorang pengusaha dengan seorang pejabat dalam membantu masyarakat.
Menurut Ahok, jika seseorang menjadi pengusaha dan menggunakan uang pribadi untuk membantu masyarakat miskin, kemampuan tersebut tetap terbatas.
Sebaliknya, seorang pejabat memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam skala lebih besar.
“Kalau kamu jadi pejabat, kamu bisa membuat semua orang punya penghasilan seperti itu. Kamu bisa menolong orang yang miskin dan yang membutuhkan bantuan,” kata Ahok, dikutip Minggu (16/8/2026).
Pesan ayahnya kemudian semakin sederhana sekaligus tajam.
“Kalau mau bantu orang miskin, nantang pejabat, jadi pejabat,” ujar Ahok mengutip pesan sang ayah.
Bagi Ahok, pemikiran tersebut akhirnya menjadi alasan mengapa dirinya memilih masuk ke dunia politik.
Pernah Tutup Pabrik
Sebelum menjadi politisi, Ahok dikenal sebagai pengusaha. Ia mengaku pernah mengalami langsung bagaimana seorang pengusaha dapat berhadapan dengan kekuasaan dan birokrasi.
Dalam perjalanan bisnisnya, ia bahkan pernah memutuskan menutup pabrik setelah merasa usahanya terus ditekan oleh oknum pejabat.
Ahok mengatakan pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kekayaan saja tidak selalu cukup untuk menghadapi kekuasaan.
“Orang kaya jangan lawan pejabat,” katanya, seraya menceritakan pengalaman dan pemikiran yang akhirnya mendorongnya masuk ke dunia politik.
Ia kemudian menyadari bahwa jika ingin memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menghadapi persoalan yang bersumber dari kekuasaan, dirinya harus masuk ke dalam sistem tersebut.
Dari Pengusaha hingga Politik
Perjalanan Ahok di politik tidak langsung mengantarkannya ke posisi besar.
Ia sempat bergabung dengan sejumlah partai sebelum akhirnya berkiprah di PDI Perjuangan.
Ahok menceritakan bagaimana dirinya pernah mendapat tawaran untuk masuk partai dan bahkan sempat diminta memimpin struktur partai di daerah.
Namun, keputusan masuk politik juga tidak mudah.
Ahok mengaku dirinya sebagai pengusaha terbiasa berhitung mengenai risiko.
Ia bahkan mengatakan bahwa sebagai pengusaha, dirinya tentu memiliki rasa takut berhadapan dengan penguasa atau aparat.
“Lu berani lawan tentara, lawan polisi. Enggak mungkin,” kata Ahok menggambarkan logika yang dulu ada di pikirannya.
Tetap Memilih Politik
Kini, setelah melewati perjalanan panjang sebagai pengusaha dan politisi, Ahok mengatakan dirinya tetap bertahan di dunia politik.
Ia mengaku pernah mendapat berbagai tawaran dari perusahaan swasta dengan peran besar dan kompensasi menarik.
Namun, pilihan tersebut berhadapan dengan satu persoalan: jika kembali sepenuhnya ke dunia korporasi, ruangnya untuk terlibat langsung dalam politik menjadi terbatas.
Bagi Ahok, nilai dan nurani tetap menjadi pertimbangan utama.
Ia mengatakan seseorang pada akhirnya akan meninggal, tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah selama hidup seseorang mampu mempertahankan nuraninya.
“Kalau nurani kita itu kan semua orang pasti mati,” kata Ahok.
Menurutnya, hidup akan terasa sengsara apabila seseorang menjalani sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan keyakinannya.
Karena itu, bagi Ahok, politik bukan sekadar soal jabatan atau kekuasaan.
Politik baginya adalah jalan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perlindungan dan keberpihakan dari negara.
“Orang kaya tidak miskin, tapi dia membutuhkan pertolongan dari penguasa,” kata Ahok, dikutip dari wawancara di kanal Rhenald Kasali, Sabtu (15/8/2026).
Pesan sang ayah puluhan tahun lalu pun akhirnya menjadi semacam kompas bagi perjalanan politik Ahok: jika ingin benar-benar membantu masyarakat, jangan hanya berdiri di luar kekuasaan—masuk dan gunakan kewenangan untuk memperjuangkan mereka. []
Wawancara selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=FCSXyzIWy0Q
Baca juga: Ahok Tolak Rencana Akuisisi Mobil Listrik Jerman oleh Indonesia Battery Corporation
Baca juga: Ahok Calon Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, PA 212 Langsung Bereaksi
Baca juga: Foto : Ahok Sudah Ingatkan Manajemen Pertamina Terkait Pemotongan Gaji


