Jakarta – Grup musik White Chorus resmi merilis album terbaru mereka bertajuk “L.U.F.S. — Love Under Flashing Strobe” bersama Microgram Entertainment pada 2 September 2026. Album ini hadir setelah sebelumnya mereka memperkenalkan single “Melayang” pada Agustus lalu sebagai pembuka perjalanan menuju karya penuh.
Album berdurasi enam lagu ini menjadi ruang eksplorasi musikal yang memadukan dentuman elektronik dengan romantisme melankolis, menghadirkan atmosfer yang erat dengan dunia malam.
Secara teknis, L.U.F.S. merupakan singkatan dari Loudness Units Full Scale, standar pengukuran tingkat kenyaringan audio. Namun bagi White Chorus, istilah tersebut memiliki makna personal: Love Under Flashing Strobe.
“Love Under Flashing Strobe bukan judul yang sok rumit, sih… Sebenarnya ya sederhana saja. Ada cinta yang lahir di tengah malam, lampu club, euforia, dan kehilangan. Itu yang bikin kami kepikiran buat bikin L.U.F.S. ini,” ujar Emir, salah satu personel White Chorus.
Melalui album ini, White Chorus mempertemukan dua dunia yang sekilas bertolak belakang, yakni electronic namun tetap romantic, clubby namun tetap sedih. Dentuman musik menjadi latar bagi cerita tentang hubungan yang tidak selalu berakhir meski kisah cinta telah selesai.
Enam lagu yang dihadirkan membawa pendengar melewati berbagai fase hubungan, mulai dari pertemuan, keraguan, kehilangan, hingga upaya merayakan kembali apa yang pernah ada. Tracklist album terdiri dari “Aku dan Kamu”, “Terakhir”, “Melayang”, “Beri Aku Satu Tanda”, “Agar Hatiku Tak Selalu Meragu”, “Masih Ada”, dan “Rayakan”.
Sebelum perilisan penuh, single “Melayang” telah menjadi pintu masuk menuju dunia “L.U.F.S.”, sekaligus memberikan gambaran mengenai perpaduan energi elektronik, atmosfer club, dan emosi intim yang menjadi karakter album.
Kini, seluruh perjalanan emosional tersebut dapat dinikmati secara utuh melalui enam lagu yang tersedia di berbagai platform musik digital.
White Chorus melalui “L.U.F.S.” mengajak pendengar masuk ke ruang di mana cinta, euforia, dan kehilangan bertemu dalam satu malam panjang.
Dari cinta yang ditemukan di bawah lampu strobe hingga perasaan yang tertinggal setelah musik berhenti, album ini menjadi refleksi tentang bagaimana hubungan manusia beresonansi dengan dentuman musik elektronik. []

