KUALA LUMPUR, Opsi.id — AirAsia pernah menjadi simbol keberhasilan bisnis penerbangan murah di Asia.
Maskapai yang dahulu dibeli hanya dengan harga simbolis 1 ringgit itu kini justru menghadapi tekanan keuangan yang cukup berat.
AirAsia, yang berkembang dari maskapai Malaysia yang hampir bangkrut menjadi salah satu pemain besar industri low-cost carrier (LCC), dilaporkan tengah menghadapi persoalan utang yang mencapai sekitar 79,7 triliun.
Kondisi tersebut bahkan memunculkan pembicaraan mengenai kemungkinan pengambilalihan sejumlah rute domestik AirAsia oleh maskapai lain apabila kondisi perusahaan semakin memburuk.
Mengutip laporan Channel News Asia, pemerintah Malaysia disebut telah meminta Malaysia Airlines dan Batik Air bersiap mengambil alih rute domestik serta melayani penumpang AirAsia jika diperlukan.
Namun, pembicaraan tersebut belum berarti keputusan pengambilalihan telah ditetapkan.
Dibeli Hanya 1 Ringgit
Perjalanan AirAsia bermula pada 1993. Maskapai tersebut mulai beroperasi pada 1996 sebagai perusahaan penerbangan konvensional.
Namun, bisnis AirAsia ketika itu tidak berjalan mulus.
Perusahaan terus mengalami kerugian dan menanggung utang sekitar 40 juta ringgit.
Titik balik terjadi pada September 2001.
Pengusaha Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun melalui Tune Air mengambil alih AirAsia dengan harga simbolis hanya 1 ringgit, sekaligus mengambil alih kewajiban utang perusahaan.
Setelah itu, AirAsia diubah menjadi maskapai berbiaya rendah dengan strategi yang agresif.
Model bisnisnya mengandalkan tarif murah, tingkat utilisasi pesawat yang tinggi, serta penjualan tiket secara daring.
Strategi tersebut kemudian membawa AirAsia melakukan ekspansi ke berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, Indonesia dan Filipina.
Pada 2004, AirAsia mencatatkan sahamnya di Bursa Malaysia.
Dari 50 Juta hingga 100 Juta Penumpang
Pertumbuhan AirAsia berlangsung sangat cepat.
Pada 2008, maskapai tersebut telah mengangkut sekitar 50 juta penumpang.
AirAsia juga mulai masuk ke salah satu jalur penerbangan tersibuk di kawasan, yakni Kuala Lumpur-Singapura.
Setahun kemudian, AirAsia mendapat penghargaan sebagai maskapai murah terbaik dunia versi Skytrax.
Pada 2010, jumlah penumpang yang telah dilayani AirAsia mencapai 100 juta orang.
Ekspansi kemudian dilakukan lebih jauh melalui AirAsia X.
Maskapai ini sempat membuka penerbangan jarak jauh ke London dan Paris.
Namun, tingginya harga bahan bakar membuat sejumlah rute tersebut akhirnya dihentikan pada 2012.
AirAsia juga pernah menghadapi tragedi besar ketika pesawat AirAsia Indonesia QZ8501 rute Surabaya-Singapura jatuh di Laut Jawa pada Desember 2014.
Sebanyak 162 orang dalam pesawat tersebut meninggal dunia.
Tekanan Finansial Mulai Terlihat
Sebelum pandemi Covid-19 menghantam industri penerbangan, AirAsia sebenarnya masih mencatatkan keuntungan.
Namun, kenaikan harga bahan bakar turut memberikan tekanan terhadap biaya operasional.
Pada 2018, harga avtur yang meningkat dari sekitar 69 dollar AS menjadi 92 dollar AS per barel membuat beban bahan bakar AirAsia melonjak.
Tagihan bahan bakar perusahaan disebut mencapai sekitar 703 juta ringgit atau lebih dari Rp3 triliun.
Pandemi Covid-19 kemudian menjadi pukulan yang jauh lebih besar bagi industri penerbangan global.
Pembatasan perjalanan membuat penerbangan anjlok, sementara perusahaan penerbangan tetap harus menghadapi berbagai biaya dan kewajiban finansial.


