Dari Ikon Penerbangan Murah ke Titik Persimpangan
Kisah AirAsia menunjukkan betapa cepat sebuah perusahaan dapat berubah mengikuti kondisi industri.
Dari maskapai yang dibeli hanya dengan 1 ringgit, AirAsia tumbuh menjadi merek penerbangan yang dikenal luas di Asia dan menjadi salah satu pelopor model penerbangan murah.
Namun, ekspansi besar-besaran, tingginya biaya operasional, harga bahan bakar dan dampak pandemi menjadi bagian dari tekanan yang harus dihadapi perusahaan.
Kini, dengan persoalan utang yang dilaporkan mencapai sekitar Rp79,7 triliun dan munculnya pembicaraan mengenai kesiapan maskapai lain mengambil alih rute domestik, masa depan AirAsia kembali menjadi perhatian.
Meski demikian, pembicaraan mengenai kemungkinan pengambilalihan tersebut belum sama dengan keputusan bahwa AirAsia akan diambil alih.
Perjalanan maskapai yang pernah mengubah wajah penerbangan murah Asia itu pun kini memasuki babak baru. []
Baca juga: Wow! Bisnis Pesan dan Kirim Makanan AirAsia Food Segera Hadir di Indonesia
Baca juga: Transnusa Lakukan Penyesuaian Operasional Penerbangan Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau


