JAKARTA | Opsi.id — Politikus Partai NasDem Irma Suryani Chaniago angkat suara membela Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang belakangan kembali aktif melakukan berbagai kegiatan dan safari politik di sejumlah daerah.
Irma menilai aktivitas Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden merupakan bagian dari hak politiknya sebagai warga negara.
“Pak Jokowi ini kan mantan presiden ya, yang sudah bukan jadi presiden lagi. Dia punya hak politik,” kata Irma dalam wawancara yang dimuat Cokro TV, 16 September 2026.
Menurut Irma, Jokowi merupakan manusia merdeka yang berhak menentukan sikap dan aktivitas politiknya.
Ia bahkan membandingkan hak tersebut dengan yang dimiliki mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Dia manusia merdeka yang boleh menentukan sikapnya, yang boleh dan bisa menentukan sikapnya. Mau melakukan aktivitas politik seperti apa pun dia punya hak sebagai warga negara sebagaimana Pak SBY,” ujarnya.
Irma: Jangan Baper dengan Jokowi
Irma sebelumnya juga menanggapi kritik terhadap aktivitas Jokowi yang belakangan terlihat semakin aktif di ruang publik.
Ia mengatakan, tidak semestinya pihak lain mempermasalahkan Jokowi yang melakukan perjalanan dan bertemu masyarakat.
Menurut Irma, apabila ada pihak yang merasa kalah populer dibanding Jokowi, persoalan tersebut bukan sesuatu yang harus dibebankan kepada mantan presiden tersebut.
“Kalau yang lain-lain kalah populer dengan Pak Jokowi ya itu urusannya rakyat,” kata Irma.
Irma juga mengaku pernah datang langsung ke Solo bersama stafnya untuk melihat aktivitas masyarakat yang datang menemui Jokowi.
Ia mengatakan, berdasarkan pengamatannya, masyarakat yang hadir memang datang karena ingin bertemu dan mengidolakan Jokowi.
Sebut Jokowi Masih Dicintai Rakyat
Irma kemudian menyinggung perjalanan politik Jokowi dan hubungannya dengan kemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024
Menurut Irma, dukungan Jokowi kepada Prabowo menjadi salah satu faktor yang ia gunakan untuk menjelaskan bahwa Jokowi masih memiliki basis dukungan masyarakat.
“Faktanya sekali lagi ini yang ngomong Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang maju tiga kali baru ketika didukung Pak Jokowi dia menang,” ujar Irma, dikutip Jumat (18/9/2026).
Irma juga menyinggung keputusan Prabowo memilih Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024.
Dalam pandangannya, hal tersebut menunjukkan adanya pengakuan terhadap pengaruh politik Jokowi.
Jokowi Disebut Berhak Berkiprah
Irma menolak anggapan bahwa aktivitas Jokowi setelah pensiun sebagai presiden otomatis berarti keinginan untuk mempertahankan kekuasaan.
Menurut dia, seorang mantan presiden tetap memiliki hak untuk berpolitik maupun membantu pemerintah dan masyarakat.
“Kalau Pak Jokowi mau berkiprah lagi terhadap bangsa dan negaranya, membantu pemerintah, membantu rakyat, membantu bangsa dan negara, ini siapa yang boleh ngelarang? Undang-undang aja melindungi,” katanya.
Ia juga menilai keputusan Jokowi memilih atau mendukung partai politik tidak dengan sendirinya dapat ditafsirkan sebagai upaya mempertahankan kekuasaan.
Irma Puji Kinerja Jokowi
Dalam wawancara tersebut, Irma juga menyampaikan penilaiannya mengenai kinerja Jokowi selama menjadi presiden.
Ia menyebut sejumlah pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, tol laut, rumah sakit, sekolah hingga kereta api cepat sebagai bagian dari capaian pemerintahan Jokowi, meski mengakui terdapat pro dan kontra terhadap sejumlah proyek.
Irma juga mengatakan Jokowi memiliki pola kerja yang terukur dan target dalam menjalankan program pemerintah.
“Pak Jokowi santai tapi selesai. Orangnya itu teratur,” ujar Irma.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya berkomunikasi langsung dengan Jokowi ketika dirinya masih menjadi juru bicara.
Menurut Irma, Jokowi merupakan sosok yang mudah ditemui dan mau mendengarkan masukan.
Kritik Media yang Dinilai Terlalu Gaduh
Di bagian akhir wawancara, Irma juga mengkritik pemberitaan dan podcast yang menurutnya terlalu sering mengangkat isu kontroversial seputar Jokowi.
Ia berharap media menjadi sumber informasi publik yang konstruktif dan tidak sekadar mengejar rating.
“Sebagai media harusnya menjadi jendela informasi publik yang konstruktif,” kata Irma.
Irma juga mengaku tidak pernah ikut terlibat langsung dalam polemik mengenai isu ijazah Jokowi yang terus menjadi perdebatan di ruang publik.
“Saya paling ngomentarin dari podcast saja. Saya enggak mau karena saya malu,” ujarnya.
Sikap Irma tersebut sejalan dengan pernyataannya pada Juni 2026 ketika NasDem menyatakan menghormati hak politik Jokowi terkait aktivitas politiknya dan target PSI menuju Pemilu 2029. []
Baca juga: Jokowi Tinjau Gereja Rusak Akibat Gempa NTT, Pastor: Kehadiran Penuh Kasih
Baca juga: Respons PDIP soal Jokowi Ingin Bertemu Megawati, Said: Kartu Mati Jangan Dihidupkan


