Jakarta, Opsi.id – Kebiasaan tidur setelah tengah malam kerap dianggap hal biasa, terutama bagi orang yang memiliki banyak pekerjaan, aktif menggunakan gawai, atau terbiasa menonton hingga larut malam.
Namun, jika dilakukan terus-menerus, pola tidur ini dapat memengaruhi kualitas istirahat dan ritme biologis tubuh.
Waktu tidur tidak hanya berkaitan dengan berapa lama seseorang terlelap, tetapi juga kapan tubuh mulai beristirahat.
Jadwal tidur yang tidak selaras dengan jam biologis dapat membuat tubuh kesulitan mempertahankan pola tidur yang optimal.
Dilansir dari Kompas.com, Jumat (16/10/2026), ritme sirkadian merupakan sistem internal tubuh yang bekerja dalam siklus sekitar 24 jam.
Sistem ini berperan mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk rasa kantuk, waktu terjaga, dan perubahan hormon sepanjang hari.
Cahaya dan kegelapan menjadi sinyal penting dalam mengatur ritme tersebut. Karena itu, paparan cahaya terang pada malam hari, termasuk dari layar telepon seluler dan komputer, dapat mengganggu kesiapan tubuh untuk tidur.
Mengganggu Ritme Sirkadian
Tidak semua orang memiliki waktu tidur ideal yang sama. Sebagian orang secara alami cenderung tidur lebih awal, sedangkan sebagian lainnya memiliki kecenderungan tidur lebih malam.
Meski demikian, jadwal tidur yang terus-menerus tidak sesuai dengan ritme sirkadian dapat mengganggu kualitas istirahat, terutama jika seseorang harus bangun pada waktu yang tetap setiap pagi.
Ahli tidur Chelsie Rohrscheib, PhD, menjelaskan bahwa waktu tidur sebaiknya diselaraskan dengan ritme sirkadian tubuh.
Kebiasaan tidur di luar waktu biologis yang sesuai dapat membuat pola tidur menjadi kurang optimal.
Paparan cahaya terang pada malam hari juga dapat membuat otak menerima sinyal seolah-olah hari masih berlangsung.
Akibatnya, tubuh dapat mengalami kesulitan untuk bersiap memasuki waktu istirahat.
Memengaruhi Hormon Tidur
Tubuh memiliki mekanisme hormonal yang membantu mengatur waktu tidur dan bangun. Salah satunya adalah melatonin, hormon yang memberi sinyal bahwa tubuh perlu bersiap untuk tidur.
Produksi melatonin umumnya meningkat pada malam hari dan menurun menjelang pagi.
Sementara itu, kadar kortisol mulai meningkat menjelang waktu bangun untuk membantu tubuh menjadi lebih waspada.
Baca juga: Prabowo: Kita Harus Jadi Raksasa yang Tidak Tidur
Dokter spesialis tidur Alex Dimitriu menjelaskan bahwa tidur terlalu larut dapat membuat seseorang melewatkan sebagian periode biologis yang mendukung rasa kantuk.
Kondisi ini bisa semakin mengganggu jika orang tersebut masih terpapar cahaya terang pada malam hari.
Mengurangi Kesempatan Mendapatkan Tidur Nyenyak
Selama tidur, tubuh melewati beberapa tahapan, termasuk tidur dalam atau deep sleep yang dikenal sebagai slow-wave sleep.
Tahap tidur ini berperan dalam pemulihan fisik, konsolidasi memori, dan sejumlah proses penting lainnya. Tidur dalam cenderung lebih banyak terjadi pada bagian awal periode tidur.
Jika seseorang baru tidur setelah tengah malam tetapi tetap harus bangun pagi, waktu istirahat yang tersedia menjadi lebih pendek.
Akibatnya, kebutuhan tidur mungkin tidak terpenuhi dan tubuh berpotensi kehilangan sebagian kesempatan memperoleh tidur dalam yang cukup.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah, kurang segar, atau belum pulih sepenuhnya ketika bangun.
Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata karena tidur melewati pukul 00.00, melainkan juga berkaitan dengan durasi tidur, konsistensi jadwal, dan kesesuaiannya dengan ritme biologis tubuh.
Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Kronis
Ketidaksesuaian antara ritme sirkadian dan jadwal tidur yang berlangsung dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah masalah kesehatan.
Menurut Chelsie Rohrscheib, pola tidur dan bangun yang tidak selaras dengan ritme biologis dapat berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, dan depresi.
Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa tidur setelah tengah malam secara langsung menyebabkan penyakit-penyakit tersebut.
Baca juga: Kandang Kambing Terbakar saat Pemilik Tidur, Gas Metana Bikin Api Membesar
Risiko kesehatan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk durasi tidur, pola kerja, aktivitas fisik, pola makan, paparan cahaya, serta kondisi kesehatan seseorang.
Penting Menjaga Jadwal Tidur
Untuk menjaga kualitas istirahat, seseorang dapat mulai membiasakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif konsisten setiap hari.
Mengurangi penggunaan gawai menjelang tidur, membatasi paparan cahaya terang pada malam hari, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman juga dapat membantu tubuh bersiap untuk beristirahat.
Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam.
Karena itu, selain memperhatikan waktu mulai tidur, penting pula memastikan durasi istirahat mencukupi.
Menjaga pola tidur yang teratur merupakan salah satu langkah sederhana untuk mendukung kesehatan tubuh dalam jangka panjang. []

