Menurut analisis tersebut, suhu di wilayah Mediterania mengalami peningkatan sekitar 2 derajat Celsius, sedangkan kenaikan suhu di perairan Eropa Barat mencapai sekitar 1,4 derajat Celsius.
Pada Juli 2026, suhu rata-rata kawasan Mediterania dilaporkan mencapai sekitar 21 derajat Celsius. Bahkan, pada awal Agustus, alat pelampung pemantau suhu di perairan Mallorca mencatat temperatur hingga 33 derajat Celsius.
Dampak El Nino di Indonesia
Di Indonesia, dampak El Nino juga mulai menjadi perhatian. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut kekuatan El Nino tahun ini lebih besar dibandingkan fenomena serupa yang terjadi pada 2015.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap sejumlah wilayah Indonesia, terutama akibat meningkatnya suhu dan berkurangnya curah hujan.
Ancaman kekeringan juga diperkirakan dapat semakin besar seiring kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) pada periode September hingga November 2026.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Raja Juli mengatakan El Nino dapat membuat cuaca menjadi lebih panas dan kering dengan durasi yang lebih panjang.
Situasi tersebut pada akhirnya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta potensi munculnya kabut asap.
Senada dengan hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia menjadi salah satu faktor yang turut mendukung terjadinya karhutla.
“Berkurangnya curah hujan tersebut berimplikasi pada sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Indonesia,” demikian disampaikan BMKG dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan periode 21-27 Agustus 2026. []


