Glow Up Tak Cukup Cantik: Mengapa Perempuan Perlu Cerdas di Era Digital

Tanggal:

Oleh*: Jessica Esther Warouw (Sekretaris Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia/GMKI)

Kita hidup di zaman yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh Raden Ajeng Kartini. Pengetahuan tak lagi tersimpan di rak perpustakaan atau ruang kelas, melainkan mengalir deras lewat layar di genggaman. Belajar tak lagi membutuhkan pintu untuk didobrak, juga jarak untuk ditempuh.

Namun di tengah kelimpahan itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar belajar, atau sekadar merasa sudah tahu?

Setiap 21 April, Kartini kerap kita tempatkan sebagai simbol—dipuji, dikenang, lalu dijauhkan dari kegelisahan masa kini. Padahal, yang ia perjuangkan bukan sekadar akses perempuan keluar dari ruang domestik, melainkan kebebasan berpikir.

Ia melawan bukan hanya adat, tetapi juga kebodohan. Hari ini, bentuk tantangannya berubah—tetapi esensinya tetap sama.

Antara Penampilan dan Pemahaman

Di era media sosial, glow up telah menjelma menjadi mantra. Ia hadir dalam video singkat, foto yang dikurasi, dan narasi perubahan diri yang hampir selalu berangkat dari tampilan luar.

Kulit lebih cerah. Gaya lebih rapi. Tubuh lebih proporsional. Semua itu sah. Merawat diri bukan kesalahan.

Yang menjadi soal adalah ketika perubahan berhenti di permukaan.

Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan tampilan, tetapi kerap mengabaikan kedalaman. Percakapan tentang apa yang kita pikirkan dan pahami kalah cepat oleh konten yang ringan dan instan.

Di ruang digital, banyak yang mahir membangun citra, tetapi gagap membaca realitas. Kita akrab dengan tren global, tetapi asing terhadap persoalan di sekitar.

Inilah ironi kita: tampak berkembang, tetapi belum tentu bertumbuh.

Internet: Cermin atau Jendela

Indonesia mencatat pertumbuhan pengguna internet yang pesat, dengan perempuan sebagai bagian penting di dalamnya. Akses yang dulu mewah, kini menjadi hal biasa.

Namun akses tidak otomatis melahirkan pemahaman.

Internet bisa menjadi cermin—memantulkan apa yang ingin kita lihat. Tetapi ia juga bisa menjadi jendela—membuka wawasan pada dunia yang lebih luas dan kompleks.

Pertanyaannya sederhana: kita memilih yang mana?

Di satu sisi, peluang belajar terbuka tanpa batas. Di sisi lain, godaan untuk berhenti pada yang dangkal juga semakin besar.

Tak ada yang melarang kita untuk belajar. Namun juga tak ada yang memaksa kita untuk melakukannya. Di situlah tanggung jawab menjadi sepenuhnya personal.

Belajar sebagai Sikap Hidup

Di tengah budaya serba instan, ada satu hal yang perlu dijaga: belajar bukan sekadar aktivitas, melainkan sikap hidup.

Belajar tidak selalu soal gelar atau ruang kelas. Ia hadir dalam keberanian bertanya, kesediaan mendengar, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum tahu.

Sepanjang sejarah, perempuan telah menunjukkan daya lenting luar biasa—belajar dalam keterbatasan, bertahan dalam tekanan, dan menemukan jalan di ruang yang sempit.

Kini, ketika ruang itu terbuka lebih luas, pertanyaannya bergeser: apakah kita hanya akan bertahan, atau benar-benar bertumbuh?

Perempuan yang mau memahami isu, memperluas wawasan, dan tidak berhenti pada yang viral, sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar memperbaiki penampilan. Mereka sedang membangun kapasitas.

Lebih dari Sekadar Terlihat

Di dunia yang bising oleh citra, terlihat sering dianggap cukup. Padahal, yang menentukan arah hidup bukanlah seberapa sering seseorang dilihat, melainkan seberapa dalam ia memahami.

Kecantikan dan kecerdasan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan. Namun tanpa kedalaman berpikir, segala yang tampak akan mudah goyah.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan bagaimana seseorang dipandang, melainkan apa yang ia bawa—dalam pikiran, sikap, dan kontribusinya.

Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia tidak lagi bertanya apakah perempuan bisa mengakses pendidikan. Ia akan bertanya lebih tajam: di tengah segala kemudahan, mengapa kita masih ragu untuk belajar?

  • Kecantikan menarik perhatian.
  • Pengetahuan memberi arah.
  • Karakter memberi pijakan.
  • Dan keberanian untuk terus belajar—itulah yang memberi makna.

Di situlah glow up menemukan bentuknya yang utuh: bukan sekadar perubahan yang terlihat, tetapi pertumbuhan yang terasa.

Selamat Hari Kartini

Mari menjadi lebih dari sekadar tampak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bagikan berita:

spot_imgspot_img

Populer

Baca Berita Lain
Terkait

Kartini dan Amanah Peradaban: Memuliakan Ilmu, Menguatkan Bangsa

Oleh*: Anis Byarwati (Anggota DPR RI – Fraksi PKS) Nama...

DPRD Kota Cirebon Perjuangkan Nasib PPPK Paruh Waktu, Pastikan Tidak Ada yang Dirumahkan

Cirebon – DPRD Kota Cirebon menegaskan komitmennya untuk mengawal...

Rayakan HUT ke-8, LRT Jakarta Hadirkan Re:Art, Stasiun Disulap Jadi Ruang Seni Interaktif

Jakarta – PT LRT Jakarta menghadirkan program kreatif Re:Art...