SAMARINDA — Gubernur Kalimantan Timur diguncang demo besar. Ribuan warga dan mahasiswa turun ke jalan.
Mereka mempersoalkan sejumlah kebijakan anggaran Pemerintah Provinsi Kaltim yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Beberapa hari setelah aksi ricuh itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Melalui akun Instagram resmi Pemprov Kaltim pada Senin (27/4/2026), Rudy meminta maaf atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang terjadi.
Ia juga berjanji akan mengevaluasi sejumlah kebijakan anggaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Rudy menyatakan akan meniadakan keterlibatan keluarga dalam peran struktural di lingkup pemerintahannya.
Ia juga mengklaim renovasi rumah dinas yang tidak berkaitan dengan kebutuhan kedinasan akan dibiayai menggunakan dana pribadi.
Termasuk pengadaan kursi pijat dan akuarium air laut.
Aksi demonstrasi besar terjadi pada Selasa (21/4/2026) di depan Kantor Gubernur Kaltim di Samarinda.
Massa membawa tiga tuntutan utama.
Yakni evaluasi total kebijakan Pemprov Kaltim, penghentian praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Serta mendesak DPRD menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal.
BACA JUGA: Warga Kepulauan Bala-balakang Siap Gabung ke Kaltim Jika Pemda Mamuju Cuek
Para demonstran mengecam kebijakan anggaran yang dianggap “melukai hati rakyat”.
Terutama di tengah kondisi infrastruktur jalan rusak dan tekanan ekonomi masyarakat.
Salah satu orator dalam aksi menyuarakan kritik keras.
“Yang menyakiti kita bukan kawat duri. Yang menyakiti kita adalah kebijakan yang tidak adil,” serunya di hadapan massa.
Ketegangan meningkat saat malam hari.
Massa melempar benda ke arah aparat keamanan, ban dibakar, dan petugas merespons dengan meriam air.
Rudy disebut sempat keluar dari kantornya sekitar pukul 21.00 WITA. Namun tidak memberikan pernyataan kepada media.
Sorotan terbesar tertuju pada rencana pembelian mobil dinas gubernur. Range Rover senilai Rp8,5 miliar dalam APBD Perubahan 2025.


