Tiga jalur menuju damai, yakni:
1.Pendekatan adat dan musyawarah
Melibatkan tokoh adat, tokoh perempuan, dan pemuda sebagai mediator yang dipercaya kedua pihak.
2.Pendekatan keagamaan
Menggandeng tokoh gereja dan pemimpin agama sebagai jembatan rekonsiliasi dan pemulihan spiritual.
3.Pendekatan hukum
Memastikan keadilan tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku tanpa diskriminasi.
Konflik menguras anggaran, mengorbankan masa depan
Wandik tidak hanya berbicara soal perdamaian — ia juga menyuarakan keprihatinan ekonomis yang sering luput dari perhatian.
Konflik sosial yang berulang, menurutnya, telah menggerogoti anggaran daerah yang seharusnya mengalir untuk pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Dana pembangunan jangan habis untuk konflik. Kita harus fokus membangun masa depan generasi Papua yang lebih baik.”
— Willem Wandik
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk bijak bermedia sosial — tidak menyebarkan informasi bohong atau ujaran provokatif yang dapat memperkeruh situasi yang sudah panas.
Bagi Wandik, setiap nyawa orang asli Papua terlalu berharga untuk dikorbankan demi kebencian atau ego kelompok.
“Jangan bakar Papua dengan kebencian. Mari jadi pembawa damai bagi negeri ini. Mari kita jaga Wamena, mari kita jaga Papua Pegunungan, mari kita jaga tanah Papua.”
— Willem Wandik, Bupati Tolikara
Seruan Bupati Wandik diharapkan menjadi titik balik bagi terciptanya rekonsiliasi permanen di Wamena dan seluruh wilayah Papua Pegunungan.
Konflik yang pecah Jumat lalu itu tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memaksa warga mengungsi dan meninggalkan kerusakan fasilitas di belakang mereka.
Tentang Willem Wandik
Willem Wandik, S.Sos., adalah Bupati Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Ia dikenal sebagai mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI asal Papua dan mantan Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). []


